Kamis, 28 September 2017

Love Story Part 2 - Si Gadis Pemimpi - Viviyona Apriani

Aku si Pemimpi yang Pantang Menyerah! Aku Yona, Jiko yang diucapkan Yona dengan tegas dan lugas, video ini berkali2 kulihat, seakan2 menghipnotisku. Ya 2 hari ini aku sama sekali tidak menyentuh apapun dengan dunia peridolan kecuali melihat update twitter dan IG mereka. Tapi 2 hari ini begitu indah dan bahagia karena Yona selalu datang menjenguk dan merawatku, hingga di hari terakhir kedua orang tuaku dari Depok datang untuk mengurusku. Thanks si Pemimpi, itulah statusku terbaru di twitter. Perasaanku begitu bahagia walaupun aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Yona tidak menaruh rasa apapun padaku. Tapi aku sadar, butuh perjuangan untuk mendapatkan hati seorang member sekelas Yona.

Perjuangan pertama yg kulakukan adalah, aku berhenti untuk ngidol. Sejak saat kejadian itu aku berhenti ngidol sama sekali. Karena kebetulan aku juga mendapatkan cuti dari kantor selama seminggu, jadi aku bisa memulihkan kesehatanku di rumah. "Lagi ngapain Yona? Udah sarapan?" chat yg kukirim sejak pagi tidak ada balasan, bahkan di read pun tidak. Aku terus berpositif thinking, Yona adalah org yg sibuk, jadi tidak akan sempat baca chat.

Hari pun berlalu, hari2ku begitu kosong, aku merindukan sapaan hangat di pagi hari, suapan sarapan dari tangan yg begitu lembut, dan suara yg begitu khas dari Yona. Tapi semua sudah berlalu. "Eh sbb, aku sibuk kmarin, udah kok, kk udah?", tiba2 chat balasan dari Yona tiba sehari setelahnya.

"Oh gpp kok, aku udah sarapan, gmana keadaan kmu? Sehat kan? Jaga diri ya!" Balasku. Kutunggu balasan darinya sambil beraktifitas seperti olahraga ringan, nonton TV dan lainnya. Hingga sore hari pun tiba, ku periksa HPku, tidak ada tanda2 balasan dari Yona. Hingga akhirnya aku pun tersadar, aku bukanlah siapa2. Aku hanyalah fans biasa yg mencoba menjadikan nyata sebuah hayalan yg mustahil untuk dicapai. Tiba2 semangatku down, perasaan putus asa menghinggap di pikiranku. Eh bego lu Dit, baru 2 kali coba aja udah putus asa, gk panteng dikatakan berjuang lu.

Bener juga sih, baru gini doank udah nyerah, ahh cowok apaan aku ini. Semangatku bangkit kembali, gak peduli dibaca atau tidak, kembali kukirim chat ke Yona, "Inget pesen Papahnya, klo ada apa2 kasi tau aku, aku siap jagain kamu, aku gk mau sampe terjadi apa2 sama kmu". Akupun melepas HPku, kemudian keluar rumah untuk merasakan segarnya udara. Rutinitas ini selalu kulakukan dalam masa penyembuhanku. Hingga akhirnya malam pun tiba. Masih tidak ada balasan dari Yona.

Hari pun berganti, namun kali ini lebih menyakitkan, kulihat Yona membaca chat dariku, tapi tidak membalasnya. Oke fine, aku hanyalah punuk yg merindukan bulan. Terlalu tinggi mimpi lho Dit. Cari aja gadis Depok, jangan jauh2 ke Jakarta, ribet. Ahhh udah deh, sepertinya aku emang ditakdirkan gk akan bisa mendapatkan seorang member. Ya iyalah, siapa eluu. Wkwkwkwk.

Hari demi hari terus berganti hingga 1 pekan. Apa yg kulalui selama ini tidaklah spesial, hanya melakukan berbagai rutinitas di rumah menunggu kesembuhan saja. Untuk urusan Yona, aku sudah menguburnya rapat2, aku hanya menikmati wajahnya melalui layar laptop saja. Selebihnya hanya lewat imajinasi dan hayalan tingkat tinggi yg biasa ku lakukan sejak dulu. Bahkan hal terparah yg pernah kulakukan adalah mendownload ratusan foto2 Yona di HP, kemudian kujadikan sebagai bahan coliku di kamar mandi. Rasanya begitu nikmat membayangkan sedang bercinta dgn cewek yg dicinta, tapi itu semua hanyalah semu.

Ahh sudahlah, semua member sama, mereka emang diajarkan untuk memikat para wota. "Kak, apa kabar? maaf baru bisa hubungi kk", tiba2 chat Yona membuatku terkejut. Hmmm, bales gak ya? "Baik, kmu gmana? yaa gpp kok, ada apa nih?" Balasku dgn singkat, "Kk sibuk gak?" kembali Yona membalas, "Nggak, knp nih?" balasku, "Gak enak sih ngomongnya", balas Yona kembali, "Ngomong aja gpp ok" balasku.

Agak sedikit berbelit2 sih, tapi penasaran jg, mau ngapain? "Kak, jalan yuk", ehh wait, Yona ngajak aku jalan? Apa gk salah nih? Tanpa berpikir dan tanpa bertanya aku langsung mengiyakan, tapi apa gak salah nih? Yona seorang member, ngajak aku jalan? Apakah Yona hanya ingin balas budi terhadapku? Ataukah dia emang tulus ngajak aku jalan? Kami pun janjian di sebuah mall di Jakarta, seperti biasa, kupacu motor Varioku, motor yg menjadi saksi perjuanganku agar dikenal Oshi, perjuanganku di dunia peridolan, perjuanganku hingga kini aku bisa berhubungan langsung dgn Oshiku.

Singkat cerita, tibalah aku di sebuah Mall besar di Jakarta. Aku duduk di sebuah kursi panjang yg disediakan di mall tersebut. Melihat jam dan mengecek HP sambil menunggu Yona. Rasanya sungguh deg2an, menanti seorang wanita yg dicintai dan dipuja tiba di hadapanku. Semakin lama kunanti, semakin kencang jantungku berdetak. "Kak, udah lama ya?" Tiba2 suara itu mengalihkan perhatianku. Viviyona Apriani, seorang member JKT48 mengenakan dress korea berwarna putih dgn celana kulot lebar berwarna hitam dan semi high heels dipercantik oleh bando berukuran sedang. Wangi aroma tubuhnya benar2 menusuk hidungku hingga menuju hatiku yg terdalam, membuat perasaan cintaku seakan2 tidak mampu kubendung. "Nggak kok, baru aja", jawabku walau sedikit berbohong.

Kami berdua berjalan, menyusuri lorong mall ini, mencari tempat untuk bersantai sambil santap siang, hingga akhirnya kami masuk ke sebuah restoran Korea. Aku tidak peduli restoran apa ini, mahal atau tidak, yg penting saat ini, wanita pujaanku sedang bersama diriku. Kami pun memesan makanan.

Yona: Kak, ganggu gak?
Aku: Ya nggak donk
Yona: Oooo sukur deh, aku lagi bete aja sendirian di rmh
Aku: Bete knp?
Yona: Pingin keluar

Kami ngobrol2 singkat, mencairkan suasana. Walaupun sebenarnya suasananya sudah cair, tapi aku saja yg tegang, hehehe. Cewek cantik yg selalu hadir di hayalanku, selalu masuk dalam mimpiku, dan selalu menjadi bahan coliku (Upsss, maaf), kini ada di hadapanku, begitu cantik sempurna.

Ini makan siang terindah seumur hidupku, entah apa yg kumakan namun rasanya sangat enak, bukan karena menunya yg lezat tapi suasana ini membuat segala sesuatu menjadi enak.

Yona: Kak, aku mau tanya, tolong jawab jujur ya
Aku: Iya, tanya aja
Yona: Kk kok mau berkorban buat aku?
Aku: Knp gk tanya knp aku bisa suka ama kamu?
Yona: Ya udah deh, knp bisa suka ama aku?
Aku: Gak ada satupun dlm dirimu yg bikin aku gak suka
Yona: Ihhh gombal bgt sih
Aku: Klo mslh berkorban, itu udah naluri laki2, ingin menyelamatkan org yg lemah, apalagi saat itu kamu jadi korban
Yona: Ihhh enak aja, aku gk lemah, buktinya aku bisa joget2 sampe 2 jam lebih, hehehe
Aku: Bukan itu maksudku, intinya begitu aku tau kamu dalam bahaya, udah refleks aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kamu

Yona tersenyum mendengar jawaban dariku. Semoga ini bisa membuatnya jatuh hati, hehehe. Setelah makan kami selfie berdua. Wajah Yona begitu mempesona, membuatku terpana, walaupun aku lagi bersamanya. Yona pun meminta Bill, lalu saat pelayan memberikan bill, aku melihat harganya woww, lumayan mahal sih, aku mengeluarkan dompet, "Ehhh jangan kak, aku yg ngajak kok" Tiba2 Yona menolaknya, dan dia yg menraktirku.

Kami kembali berjalan pelan menyusuri mall ini. Canda tawa, basa basi kukeluarkan agar dia nyaman saat jalan bersamaku. Hingga akhirnya waktu berpisahpun tiba. Kami menghabiskan waktu di mall ini, Yona pun pergi meninggalkanku, dan akupun harus kembali ke parkiran dan mengambil motorku kemudian pulang ke Depok. Perjalanan yg panjang, namun hatiku berbunga2. Inti pertemuan tadi adalah PDKT, entah benar atau salah, tapi dalam hatiku, Yona ingin membuka hatinya untukku pelan2, ahhh sok bgt lu Dit, dia cuma mau balas budi doank tuh.. Ohh Shiiit, pikiran negatif selalu datang di saat yg tidak tepat.

Sejak saat itu, kami makin sering berhubungan lewat chat dan beberapa kali janjian ketemuan, walaupun hanya makan siang, ataupun makan malam saja. Tapi dalam 2 Minggu terakhir ini bisa dihitung 3 kali kami bertemu. Dan selama itu aku gak pernah mengungkapkan perasaanku lagi, karena aku ingin memberinya waktu untuk berpikir. Tapi satu penyakitku yg gak bisa ilang. Aku masih saja sering onani membayangkan bersetubuh dgn Yona, apalagi aku pernah melihat keindahan payudaranya saat kejadian bulan lalu. Payudaranya begitu mulus walaupun masih tertutupi oleh Bra. Ahhhh, ingin rasanya kusentuh dgn tanganku secara langsung.

Sebenarnya gk pantes kuceritakan tapi itulah kenikmatan yg kurasakan saat sedang membayangkan wanita yg kucinta. "Bro, lu kmana aja? Gk prnah theateran?" Tiba2 Andi mengirimiku chat, "Udah berhenti ngidol nih" jawabku, "Ahh kampret lu, jgn sok deh, besok malem lah, gk kangen ama istri lu?" jawab Andi, yaa beberapa temanku menyebut Yona dgn sebutan istriku, karena saking parahnya aku berdelusi di depan mereka, hehehe.

Aku harus menyembunyikan hubunganku dgn Yona, walaupun hubungan tanpa status tapi ini bisa membahayakan karir Yona. Akupun menolak ajakan Andi untuk theateran. Aku juga ingin menunjukkan komitmenku bahwa aku sudah berhenti ngidol. "Yona, ntar malem jalan yuuk, kan malming, hehee" Iseng ku chat Yona seperti itu, aku tidak berharap mendapatkan jawaban positif, karna niatku hanya iseng doank. "Yuuk, kebetulan lagi kosong jg ntar malem", aku mengulang2 balasan dari Yona, berkali2 aku mengulang membacanya seakan2 gk percaya klo dia mengiyakan ajakanku. Ahhhh, yesss, usaha keras gak akan menghianati, kalo masih menghianati berarti usahanya belum keras, kata2 dari Melody itu seolah2 memotivasiku.

Singkat cerita, malam pun tiba. Aku sudah standby di Jakarta sejak sore hari, seakan2 tidak ingin terlambat. Hari ini Yona ada show di theater dan aku harus menunggu hingga pukul 10 malam. Kami janjian ketemu agak jauh dari Fx, Yona berjalan kaki karena hari itu Ayahnya yg memakai mobilnya. "Kak aku udah otw ksana" Chat dari Yona membuatku deg2an kencang. Padahal ini bukanlah kali pertama aku ketemu, tapi perasaan ini gk bisa dibohongi, sensasinya selalu sama setiap bertemu.

Kulihat dari kejauhan Yona berjalan menuju ke arahku. Aku memakai kemeja lengan panjang sedangkan Yona memakai jaket Hoodie dengan penutup kepala dan masker seolah menyembunyikan jati dirinya. Yona pun naik ke atas motorku, "Kak, cari lalapan yuk" pinta Yona. Akupun memacu motorku, mencari lalapan pinggir jalan, namun tidak di sekitar Senayan tentunya.

Tibalah kami di Jakarta Barat, jauh sih, tapi tempatnya aman dari para Wota, hehehe. Kami berdua makan dgn lahapnya, setelah itu kami lanjut jalan menyusuri Kota Jakarta tanpa tujuan, tapi rasanya begitu menyenangkan, betapa bagagianya, diriku saat, kududuk berdua denganmu, potongan lirik sebuah lagu menggambarkan suasana hatiku saat ini, lalu tiba2 terasa air menetes dari langit. Ahhh ternyata hujan turun, namun hanya gerimis. Tidak menyurutkan semangatku malam ini. "Kak, boleh anter pulang gak?", hmmm pertanyaan retoris, tanpa perlu kujelaskan tentu sudah tau jawabannya, heheee.

Gerimis ini menemani kami menyusuri jalanan ibu kota yg tampak lengang. Lampu2 jalanan menambah romantisnya suasanya malam minggu kali ini. Pelukan hangat dari Yona seakan2 memberi sinyal kepadaku bahwa benih2 cinta darinya mulai muncul. Perasaan yg tak dapat tergambarkan oleh lirik apapun saat ini. Hujan yg gerimis berubah menjadi sedikit lebih deras. Cukup membuat dadaku menjadi basah dan dingin. Inisiatif dari Yona yg memelukku lebih erat membuat suasana malam ini menjadi begitu hangat. Hingga akhirnya aku tiba di depan rumah Yona.

Yona turun lalu membukakan pintu gerbangnya dan menyuruhku memasukkan motorku ke dalam halaman rumahnya. Ini berarti aku harus mampir, padahal aku berpikir aku cuma nganter doank. Ya udah deh, itung2 ketemu calon mertua, hehehe. Yona menyuruhku masuk ke ruang tamu, rumahnya tampak begitu sepi. Gk ada orang satupun, yg ada hanya kami berdua.

Tiba2 Yona keluar dari kamarnya dan memberiku sebuah kaos dan sarung. "Pake ini dulu kak, ntar bajunya aku keringin di mesin cuci", kata Yona. Ya, udah aku nurut aja, aku masuk ke kamar mandi kemudian mengganti pakaianku yg sedikit basah. Setelah keluar dari kamar mandi kuberikan pakaian basah itu ke Yona. Lalu kami pun duduk berdua di ruang tamu. "Yg lain pada kmana?" tanyaku, "Pada ke Bogor, makanya aku bete sndiri" jawab Yona. Ohh pantes aja aku disuruh masuk, hehehe.

Teh hangat dan ubi rebus menemani obrolan kami malam ini. Hujan makin deras, dan ini pertanda kalau aku harus menunggu lebih lama. Tapi selama apapun itu malah membuatku bahagia, karena ada Yona di sisiku.

Aku: Yona, mmm aku mau ngomong sesuatu boleh gak?
Yona: Ya kak, ngomong aja
Aku: Sebenarnya udah sih, cuma pingin nanya lagi, hehee
Yona: Nanya apaan kak? (sambil sedikit tersenyum)
Aku: Aku suka kamu, aku pingin jadi org spesial dalam hidup kamu
Yona: Kk emng udah spesial dari dulu kok
Aku: Aku pingin lebih dari itu
Yona: Ihhh kk, aku gk suka cowok yg berbelit2
Aku: Sorry2, gini, aku pingin jadi pacar kamu
Yona: Terus terang gtu kek dari tadi
Aku: Trus jawabannya gmana?
Yona: hmmmm, kak, tau statusku saat ini kan? aku dikekang ama manajemen, aku takutnya klo kta udah berstatus malah bikin kk kecewa
Aku: Aku udah tau kok, aku terima segala konsekuensinya

Dan sejak saat itu, kami berdua resmi berpacaran, namun dgn segala konsekuensi yg harus kujalani, mulai dari status backstreet, gk boleh share foto, gk boleh menunjukkan di publik, intinya gk boleh ada yg tau deh. "Makasi yaa Yona, aku akan selalu berkomitmen sampe kmu Grad nanti".

Kami berdua pun terdiam, aku sudah kehabisan kata2, Yona pun kehabisan bahan pembicaraan. Hatiku sedang berbunga2 jadi tidak ada tindakan lain selain tersenyum. Yona pun tersenyum ke arahku. Entah berapa lama kami saling memandang, hingga akhirnya aku mendekatinya, memeluk pinggangnya dan mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Yona memejamkan matanya dan bibir kami bertemu. Ciuman yg begitu hangat dan lembut dengan latar belakang suara hujan menambah romantisnya malam jadian kami. Permainan lidah kami begitu cekatan, saling lilit dan saling membasahi satu sama lain. Tanganku mengusap2 punggung Yona, sementara dia merangkul leherku dan mendekapnya dgn erat.

Kupeluk Yona makin erat, payudaranya terasa menekan di dadaku. Kini Yona duduk di atas pangkuanku dgn posisi menyamping. Ciuman kami masih sepanas tadi, makin lama makin liar, membuat nafasnya menjadi berat. Kurebahkan tubuh Yona di sampingku, namun ciuman kami tidak terlepas. Posisiku kini berada di atas tubuh Yona. Secara perlahan tangan kananku turun, menyusuri leher Yona, kemudian turun terus hingga menuju ke dadanya. Aku hanya mengelus2 dada Yona, aku belum berani meremasnya. Yona melingkarkan kedua kakinya ke bokongku sehingga kini posisiku terkunci.

Ciuman kami terhenti sejenak, kami saling pandang dan kemudian saling senyum. Wajah manisnya sungguh bertambah manis dilihat dari jarak sedekat ini. Bibirnya yg tipis yg hanya hadir dalam hayalanku kini dapat kurasakan dgn nyata. "Sayang, boleh gak?" tanyaku dgn nada yg sungguh pelan, Yona hanya mengangguk, pertanda dia setuju dgn maksudku. Hujan memang selalu menjadi alasan kisah cinta banyak anak manusia. Kisahku malam ini, adalah hasil dari indahnya sebuah perjuangan dan penantian. Ohh Yona, kamu milikku malam ini.

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar