Kamis, 28 September 2017

Hidden Story Part 2 - Resah - Shinta Naomi

Beberapa hari ini kuisi dgn merenung. Apakah tindakanku terlalu keras dengan meninggalkan mereka berdua? Dudut coba meninggalkanku karena dia dia ingin melukai hati kakaknya yg ternyata memendam rasa cinta kepadaku, dan sebaliknya, Naomi harus berbohong pada Dudut karena dia tau kalo aku dan Dudut saling mencintai. Tapi, darimana Naomi tau? Apakah dari gigauanku saat sedang koma? Naomi sudah menunjukkan rasa cintanya padaku, hanya dialah yg merawatku saat kecelakaan. Dia merawatku dgn penuh kasih sayang, padahal kata perawat saat itu aku selalu menggigau nama Dudut. Tapi Naomi terus merawatku dgn ikhlas.

Sore ini aku hanya duduk dan diam di depan kost, menghabiskan sebotol Mizone sambil memandang langit. "Bro, lu ikut main bola gak?" Kata salah seorang teman kostku, "Nggak bro, gw diem di sini aja" jawabku. Entah mengapa, semakin hari aku ingin melupakan mereka berdua, tapi di sisi lain aku berpikir mereka sudah baik terhadapku. Apakah ini balasan untuk mereka? Terutama Naomi?

Aku bersandar pada pilar penyangga di setiap beranda kamar kost. Salah satu spot favoritku kalau sedang berada di kost. Waktu serasa lambat, Dudut dan Naomi terus terngiang di otakku, tiba2 HPku bergetar. Kurogoh kantongku dan kulihat layar HPku, sebuah nomor asing menghubungiku.

"Halo Kak, mengganggu gak?", suara seorang wanita dengan lembut, "Nggak, maaf ini siapa?" Jawabku, "Ini Viny kak". Haah, Viny menelponku, aku sempat terkejut. "Eh iya Vin, apa kabar?" tanyaku, "Baik Kak, kk gimana?", tanya Viny balik, "Aku juga baik, ada apa nih Vin?". "Begini kak, Kak Naomi dan Dudut itu sahabatku, aku gak tega ngeliat mereka berdua bersedih", kata Viny. Aku sudah tau akan kemana arah pembicaraan ini.

Viny terus berkata dgn suara keras "Apakah berlebihan seorang adik berkorban demi kakaknya, dan juga sebaliknya?", "Iya Vin, aku tau, tapi di sini aku yg jadi korban" kataku berusaha menjawabnya. "Kak Stefan bukan korban, Klo Dudut yg mundur, Kakak akan dapet Kak Naomi, klo Kak Naomi mundur, Kakak akan dpt Dudut, tapi sikap Kakak justru mengorbankan keduanya". Kata2 Viny membuatku terdiam dan berpikir keras.

Sore ini terasa begitu mencekam di dalam hatiku, bukan karena suasana ataupun keadaan, melainkan karena emosi sesaat yg sempat muncul di dalam benakku, "Cinta itu pengorbanan, bukan mengorbankan", suara itu dengan lantang berbicara keras di HPku sejak tadi. Ya itu suara Viny yg marah terhadapku, "Kamu klo merasa udah berkorban buat Dudut, apakah harus mengorbankan perasaan Dudut?" kata Viny kembali, "Dan kamu gk harus mengorbankan perasaanmu jg, ingat, kamu cowok, yg seharusnya lebih ngerti hal ini".

"Kak Naomi sudah mundur, benar2 mundur, dan dia benar2 marah kalau sampe Dudut ninggalin Kak Stefan", kata Viny. "Klo emang kak Stefan gk punya perasaan, silahkan aja, kakak tinggalin Dudut dan cari yg lain, udah dulu ya, pulsa mahal, bye" Kemudian Viny menutup telponnya. Seperti Viny benar2 marah karena sikapku yg seperti ini. Aku jadi tersadar, memang gak seharusnya aku mengedepankan emosi. Apalagi pada 2 wanita yg memang sedang butuh sosok seorang lelaki sejak ditinggal ayahnya. Ahh sudahlah, ini gak bisa dibiarkan.

Aku masuk ke kamarku, mengambil jaket dan helm, kemudian aku memacu motorku menuju kost Naomi. Saat tiba ternyata hanya ada ibunya, Kata beliau Naomi sedang show di theater. Tanpa pikir panjang aku ngebut menuju Fx Sudirman. Setelah tiba kutunggu hingga show berakhir. Aku sudah tau jam brp show berakhir dan jam brp para member keluar dari theater. Kutinggalkan pesan melalui SMS ke Naomi. Kutunggu di depan pintu samping GBK. Beberapa lama kemudian kulihat seorang wanita dgn langkah tegap dan kepala tertunduk sedang berjalan ke arahku, ya itu Naomi.

Kusuruh dia naik motorku, awalnya dia menolak, tapi kubujuk dan kurayu akhirnya dia naik ke atas motorku. "Aku pingin ngomong serius", kataku, "Ya udah ngomong aja", jawab Naomi. "Ya Jangan di jalan jg, mending cari tempat", kemudian Naomi menawarkan untuk bicara di Apartment Viny. Kami pun menuju ke Apartment Viny yg letaknya gak jauh dari Fx.

Setiba di Apartment, kami berdua masuk ke kamar Viny, dan pembicaraan pun dimulai.

Aku: Apa bener kata Viny, kamu mundur?
Naomi: Tolong jgn bicarain itu ya
Aku: Kamu sahabat terbaik aku, lebih baik aku yg mundur dari kalian berdua
Naomi: Jgn ngomong gtu, tolong jgn sakiti perasaan Dudut
Aku: Aku jg gk mau nyakitin perasaan kamu
Naomi: Aku gpp kok, perasaanku gk terlalu dalem ke kamu

Aku pun tersenyum lega mendengar hal ini, kulihat senyum manis di wajah Naomi, ini benar2 membuatku merasa plong. Aku hanya ingin memastikan bahwa sahabatku yg cantik ini tidak akan tersakiti oleh pilihanku. Aku memeluknya dgn erat, aku merasa bangga memilikinya. Naomi balik memelukku, nafasnya begitu dalam. Aku tau dia agak berat meninggalkanku, tapi aku juga tau, dia adalah wanita yg kuat dan tangguh. Pelukan kami begitu hangat dan penuh makna. Rasanya tidak ingin kulepas, pelukan yg erat hingga aku dapat merasakan detak jantungnya.

Aku mengusap2 punggungnya, entah berapa lama aku berpelukan, namun ini pertama kalinya aku berpelukan dengan Naomi. Kucium wangi rambut panjangnya yg lurus, benar2 harum dan membuatku sakaw. Kuraih leher Naomi lalu kumundurkan badannya. Tanganku menopang kepalanya. Wajah kami saling pandang dgn jarak yg begitu dekat. Aroma nafasnya tercium masuk ke dalam hidungku, hangatnya terasa begitu menenangkan hati. Wajah kami makin dekat, Naomi memejamkan matanya.

Ohhhh, wajah ini begitu cantik, nafasnya begitu lembut, bibirnya begitu tipis, dan akhirnya. Mmmmppphhhh Mmmmpphhh mmmhhhh, kami berciuman dgn sangat mesra. Sebuah ciuman yg terakhir kali kurasakan beberapa Minggu lalu saat bersama adiknya. Naomi meraih kepalaku, menekannya agar ciuman kami makin dalam. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sudah lama mulutku tidak merasakan segarnya air liur seorang gadis cantik yg begitu dekat denganku. Lidah kami melilit satu sama lain. Mulut kami terbuka untuk terus menikmati permainan lidah, Naomi terus menarik kepalaku seiring dgn dia merebahkan tubuhnya.

Kusentuh buah dada Naomi. Kuremas dgn perlahan dan penuh dgn kehati2an, aku tidak ingin menyakitinya. Tanganku kiriku terus bergerilya di area buah dada Naomi sementara tangan kananku dijadikan penyangga leher Naomi. Seakan2 masih kurang, tangan kiriku menyelinap, menerobos masuk dengan menyingkapkan kaos yg dia kenakan. Kurasakan lembut kulit perut Naomi. Lalu tanganku terus naik hingga menyentuh BHnya. Kembali kuremas buah dadanya. Kumainkan putingnya dari luar BHnya. Dengan inisiatif Naomi membuka kaitan BHnya yg ternyata terletak di depan.

Kini aku dapat merasakan kelembutan buah dada Naomi. Kupilin2 puting susu yg selama ini pernah hadir dalam hayalanku. Naomi mendesah pelan, tanganku terus meremas buah dadanya, mulai dari yg kiri hingga yg kanan. Kutarik tangan kananku, hingga kini tangan kananku terbebas. Kuangkat kaos Naomi dan kubuka. Terlihat buah dada yg begitu kencang kini terpampang di hadapanku.

Kuremas payudaranya, kemudian putingnya kuisap dgn penuh rasa sayang. Naomi terus mendesah. Matanya terpejam, dan tangannya mulai nakal meraih batang kemaluanku. Kubiarkan tangannya bermain dari luar celanaku. Kubuka celana ku hingga batang penisku tegang tanpa ada penghalang. Dengan terampil Naomi mengocok batang penisku. Aku masih sibuk mengisap puting susunya. Seperti seorang bayi yg sedang kehausan. Lalu aku menarik celana Naomi. Dengan sekali tarik terlepas celana sekalian cdnya. Setelah itu kubuka bajuku.

Kini hanya tinggal aku dan Naomi dalam keadaan telanjang bulat. Kemaluan yg begitu indah, bulu2 halus menutupi belahan kemaluan yg begitu tertata rapi. Kuangkat kedua paha Naomi sambil melebarkannya. Kubenamkan wajahku di antara kedua pahanya. Kujulurkan lidahku dan menyentuh klitorisnya. Ahhhhh, desahan yg begitu manja keluar dari mulut Naomi. Kusapu bersih kemaluan Naomi mulai dari klitoris hingga lubang kenikmatannya. Jilatanku membuatnya menggelinjang dan mengangkat pinggulnya. Semakin Naomi menggelinjang, makin dalam kujulurkan lidahku.

Rasa asin dan aroma khas lubang kenikmatannya begitu terasa. Ahhhhhh.. Ahhhh.. Ahhhh, Naomi terus menggoyangkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Akupun terus menjilati kewanitaanya. Tiba2 kedua tangannya meraih rambutku, makin dibenamkannya wajahku, Naomi menjambak rambutku menarik kepalaku agar lidahku masuk ke dalam liang senggamanya makin dalam. Dia melakukan itu sambil teriak dan mendesah.

Mataku dan mata Naomi saling pandang. Tatapan liarnya benar2 membuatku makin bernafsu, Ahhhhh, jilat terus Stefan, jilat yg kasar. Seakan2 jilatanku kurang kasar baginya. Sambil kujilat, kumasukkan jariku ke dalam lubang kenikmatannya. Ini membuat Naomi makin meracau. "Yang keras, ahhhhhh, kurang keras", Wah, rupanya Naomi suka yg kasar. Kemudian kumasukkan 2 jariku ke dalam liang senggamanya. Kukocok dgn sangat cepat, mata kami terus saling pandang, seakan2 kami ingin menunjukkan ekspresi kenikmatan yg kami alami. "Ahhhhhh yg daleeemm bangsaaaat, itu kurang dalem, pake kontol lu Stefan", aku terkejut mendengar kata2 kasar keluar dari mulutnya. Tapi ini justru membuatku makin liar.

Kini 3 jari kumasukkan ke dalam lubang kewanitaannya. Kukocok dgn sangat cepat dan keras, kukasari kemaluan Naomi. "Ahhhhh yg cepet, Ahhhh, Ahhhh" Desahan Naomi makin keras, dia seperti sedang berteriak kemudian mengangkat pinggulnya dan seperti sedang mengejang. Pantatnya terangkat dan seiring dgn kocokanku yg kuat, air kencing keluar dari lubang kemaluannya. "Ahhhhh, aku keluar, ahhhhhh, ahhhhh" Rupanya Naomi sudah mencapai orgasmenya. Cairan squirt keluar dari lubangnya.

Melihatnya sudah orgasme akupun berdiri dan kuarahkan penisku ke mulutnya. Kini tubuhku berada di atas Naomi seolah2 aku menduduki dada Naomi. Diisapnya dgn penuh nafsu. Isapan Naomi benar2 membuat ubun2ku berdenyut karena merasakan nikmatnya. Kulihat ekspresi wajahnya begitu cantik dan benar2 bernafsu. Kulihat tangan kanannya kembali memainkan klitorisnya sendiri.

Setelah berapa lama Naomi mengisap penisku. Akupun mencabut dari mulutnya, kemudian aku kembali menuju bawah tubuh Naomi. Kuarahkan penisku ke lubang kemaluannya. Dengan sekali hentakan, blessss terbenam seluruh batang penisku. Ahhhhhh, desahan Naomi merasakan dinding kemaluannya bergesekan dgn penisku. Kugenjot dgn tempo sedang. Seakan2 tidak ingin melihat buah dadanya menganggur. Kuisap kedua puting susunya secara bergantian. Benar2 kenikmatan yg sudah lama kurindukan, kini kudapatkan kembali dari Naomi.

Kucabut penisku dari lubang kemaluannya, "Jangan dicabut bego, udah enak nih" Protes Naomi. Aku rebahan di samping Naomi dan menyuruhnya untuk menaiki tubuhku. Tiba2 dia naik ke atas tubuhku, namun bukannya menggenjotku tapi dia mengarahkan lubang kemaluannya ke wajahku. Tepat di depan mulutnya dan kemudian dia mendudukinya. Aku hanya bisa menjulurkan lidahku. Kulihat Naomi lebih liar dari adiknya. Dia menggoyangkan pinggulnya merasakan nikmatnya jilatanku. Kedua tangannya tiba2 menarik kepala belakangku. Dia menekan kepalaku agar makin mengasari kemaluannya.

Jilatanku sudah benar2 keras dan kasar, namun sepertinya Naomi masih lebih ingin dikasari lagi. Entah berapa lama dia melakukan itu tiba2 Naomi jongkok di depan wajahku, tangannya mencolok2 lubang kemaluannya hingga akhirnya kembali cairan kenikmatannya keluar bersama dgn air kencing membasahi dagu dan leherku. Naomi pun menjadi lemas.

Kurebahkan tubuh Naomi, Naomi pun tiduran di sampingku dgn posisi tengkurap. Kulihat pantatnya yg mulus begitu indah dan menonjol. Kuarahkan penisku ke sela2 pantatnya. Kuhentakkan sedikit hingga masuk ke dalam lubang kemaluannya dari belakang. Dengan posisi seperti ini, lubang kemaluan Naomi terasa lebih sempit. Kugenjot dgn RPM sedang. Aku terus menikmati lubang kemaluannya. Beberapa lama kugenjot aku merasakan hampir sampai ke puncak kenikmatanku. Makin kupercepat goyanganku, Naomi terus mendesah, kedua tangannya sibuk meremas2 payudaranya sendiri. Hingga entah berapa lama kemudian kurasakan aku sedang berada di puncak kenikmatan.

Kucabut penisku dan kuarahkan ke lubang anus Naomi. Kusemprot anusnya dengan pejuku, ahhhh rasanya begitu nikmat. Kulihat pejuku mengalir, melalui belahan pantatnya hingga ke belahan kemaluan Naomi. Rasa nikmatnya membuat dengkulku menjadi lemas, benar2 tak berdaya. Akupun merebahkan diri di samping tubuh Naomi. Aku memeluk tubuh Naomi. Wajahnya berpaling dari hadapanku.

Rasanya begitu nikmat, benar2 tidak dapat kuungkapkan dengan kata2. Bahkan klo boleh jujur, nikmatnya melebihi saat ku bercinta dengan Dudut. Ahhhhh tidaaaaak, apa yg telah kulakukan? Aku bercinta dengan kakak kekasihku. Ohh tidak. Aku menyesal, benar2 menyesal, tapi nikmatnya, ahhhh bener2 kacau.

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar