Ourya oiii ouryaa oii ouryaa oiii aaaa Yosseeekoooo Taiga Faiya Saiba Faiba Daiba Baiba Jyaa Jyaa. "Yosha Ikuzo woiii bukan Yosseekoo" tiba2 Andi menegurku, "Ah Bodoamat, gw dengernya Yosseekooo" akupun ngeles. Ihhh anjiiiirrr, gesrek gw, aduuuuh luchuuuu bgt, chousetzoo kawaiii Yonaaaa. Ahhh capek juga ternyata, 2 jam lebih kami jingkrak2 mengikuti show Tim J di theater. "Hai Yona, kmu keren bgt, tadi" sapaku kepada Yona saat HT, "Makasiii kak Adit" jawab Yona dgn senyum yg sungguh manis. "Woiii jalan terus, jalan", Ahhh Babe theater emng galak. Akupun keluar dari theater lalu menuju F3 dan duduk di kursi yg disediakan oleh pihak mall di samping eskalator. Aku beristirahat mengumpulkan tenaga. "Eh, gw duluan yaak" kata Andi menyapaku. Aku terbiasa sendiri, walaupun di theater aku memiliki banyak teman. Mmmmm, gk banyak sih, ada beberapa.Rutinitas ini sudah kulalui bertahun2, pencapaian terbesarku adalah saat Oshi mengenalku dan menyebut namaku, rasanya sungguh luar biasa. Oh iya, kenalan dulu, namaku Adit, usiaku kini menginjak 24 tahun, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Rumahku cukup jauh sih, di Depok, tapi aku rela pulang pergi menaiki motor Vario kebanggaanku yg kubeli dgn hasil keringatku sendiri hanya untuk menyaksikan dan menyemangati Oshiku, Yona saat tampil.
Fx Mall mulai sepi, jam menunjukkan pukul 10 malam, ini berarti waktunya aku berpindah ke bus shelter samping Fx, tempat favorit para Wota berkumpul. Saat sedang menuruni tangga eskalator, kulihat Nadila sedang berjalan bersama seorang Staff cowok menuju parkiran mobil. Entah dia abis latihan atau apa, karena Nadila bukan tim J.
Sebenarnya ini adalah tahun ke tigaku menjadi seorang Wota, walaupun member sendiri alergi dgn sebutan Wota. Dan aku saat ini sedang merasakan titik jenuh dalam dunia peridolan. Aku beranggapan bahwa Yona telah mengenalku, dan sering memberiku waro, apalagi dia sering menyapaku. Setiap Yona menyapaku, entah saat sedang berpapasan di Mall Fx, atau saat HT atau bahkan saat Handshake event, rasanya ingin kuumumkan ke seluruh dunia, bahwa aku dikenal oleh Oshiku. Yaa, aku telah mencapai tahapan itu dan entah, apa lagi yg harus kuraih dalam dunia peridolan ini. Apakah aku harus japri, atau mungkin berhubungan langsung dgn Yona, atau bahkan memacarinya? Ahhh ini adalah imajinasi haram bagi para Wota seperti aku ini.
Mengapa aku tidak berani untuk ke tahap selanjutnya? Mengapa aku stuck hanya sampai di sini? Mengapa aku berada di titik jenuh dalam dunia peridolan ini? Sejak lama telah kupikirkan hal ini. Aku sempat mendengar sebuah skandal yg begitu heboh, yaitu Viny kedapatan janjian dgn seorang cowok di parkiran P3, dan kebetulan yg memotret saat itu adalah Andi, teman seperidolan aku. Kemudian skandal2 lainnya yg kuketahui, hingga aku mengambil kesimpulan bahwa member banyak menyembunyikan sesuatu dan golden rules hanyalah hayalan belaka.
Mengapa cowok2 tersebut dgn mudah mendapatkan member JKT48? Member2 yg dipuja2 banyak fans, para member yg diidolakan oleh jutaan orang? Berkali2 aku berpikir, hingga akhirnya aku mendapatkan satu jawaban. Cowok2 itu bukanlah Wota, mereka bisa bebas mengisi kehidupan para member, karena mereka bukanlah kami.
Akupun jadi berpikir, apakah untuk menuju ke tahap selanjutnya aku harus melepaskan predikatku sebagai seorang Wota? Ataukah aku hanya berdelusi gak jelas karna menghayal terlalu tinggi? Heiii, come on, I'm human too. Aku seorang lelaki, yg berhak mendapatkan cinta yg nyata, bukan hanya cinta platonik yg timbul di dada tanpa berharap untuk berbalas. Dit, lu cowok, lebih baik lu mundur selamanya daripada lu kalah sebelum bertarung. Hmmmm motivasi yg terus membakar semangatku.
Dunia Idol ini seharusnya menjadi hiburan bagiku, mengisi kekosongan dalam hidupku, tapi yg ada malah sebaliknya. Dunia idol ini menguras segalanya, mulai dari uang, waktu, tenaga hingga hati. Sebagai seorang Wota aku berani loyal kepada Oshiku, memberinya Gift yg tidak biasa, membantunya dalam Sousenkyo hingga menghabiskan sesi2 Handshakenya. Tujuannya apa? Hanya ingin dikenal dan diwaro oleh Yona. Dan semua itu sudah kudapatkan. Hati berkata cukup, jangan diteruskan, gak ada gunanya, tapi pikiranku berkata, kamu sudah sejauh ini, hanya inikah yg kamu dapat? Hati dan logika selalu berlawanan. Aku terus merenungi hal ini.
Keluar dari dunia peridolan sepenuhnya bagaikan kita berjanji untuk berpola hidup sehat, niat selalu ada, tapi selalu ada alasan untuk menundanya. Pernah suatu waktu aku vakum dari dunia idol ini hingga 1 bulan, tapi tiba2 muncul lagi hanya karena melihat Yona tampil di sebuah acara TV. Apakah JKT48 yg mempengaruhiku? Ataukah hanya Yona seorang?
Aku mengendarai motor menyusuri gelapnya malam, hingar bingar kehidupan ibu kota sudah kulalui. Jalan ini selalu kutempuh hampir setiap hari. Aku melamun, membayangkan bagaimana jika Yona menjadi pacarku. Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam daftar wota yg dikenal oleh member. Ya, memang hari2ku selalu dipenuhi dgn delusi. "Aaaaaaaa toloooooong, jangaaaan", Haaaah, tiba2 kudengar suara itu. Jalanan yg begitu sepi ini lalu terdengar suara seorang wanita minta tolong. Naluri kelakianku timbul, aku berhenti memarkirkan motorku di pinggir jalan, lalu mendekati sumber suara itu.
Ohhh noooo, itu Yona, dia sedang didekap oleh 2 orang cowok, ahhh tidak, Oshiku, akupun berlari dgn kencang kemudian mengarahkan tendanganku ke punggung salah satu cowok itu. Dia pun jatuh tersungkur, akupun membuka helmku dan menghajar kepala cowok yg satu lagi. Aku sedang di atas angin, cowok itu terlihat kesakitan tapi aku ingin menghajarnya habis2an, dia telah menyakiti Oshiku.
Tiba2, aaaaaaakkk, tidaaak, rasanya sakit sekali, ada yg menancap di pinggangku, "Aaaaaaaaaa" Kudengar suara teriakan Yona begitu keras. Kulihat kedua cowok tadi berlari menjauh. Kurasakan ada sesuatu di pinggangku, dan itu adalah sebuah pisau. Akupun terjatuh, "Kaaak Adiit, tahan ya Kak" Yona menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Pandanganku makin buram, rasa sakit yg kurasakan berubah menjadi dingin yg menusuk, kakiku seperti mati rasa. "Toloooooooooong" Suara Yona memekik heningnya malam.
"Toloooooooong" Yona terus berteriak, kulihat bajunya sobek hingga memperlihatkan Bra yg dikenakannya. Kulepaskan jaketku, "Kaak Jangan bergerak, tunggu pertolongan ya", Kata Yona begitu perhatian, tapi aku tidak tega melihat kemulusan kulitnya terpampang jelas seperti ini. Kulepas jaketku dan kupaksa Yona untuk mengenakannya. Dan akupun kembali terjatuh di pangkuan Yona, dingin makin menusuk, pinggangku mengeluarkan banyak darah, kini tanganku yg mati rasa, dan semua berubah menjadi gelap.
Lalu tiba2 sebuah cahaya yg begitu terang mengagetkanku. Aku terbangun di sebuah ruangan, kulihat kanan kiriku ada perban, gunting dan peralatan operasi lainnya. Akupun tersadar ini adalah Rumah Sakit. Saat kutoleh kepalaku, kulihat Yona duduk di sebuah sofa, sedang menangis tersedu2, kulihat Shanju, Kinal dan Lidya sedang menenangkannya. Kulihat jaketku masih dikenakan olehnya. Ahhhh, apakah aku naik tingkat lagi? Sebuah pemikiran yg membuatku tersenyum dan melupakan sejenak rasa sakit yg kurasakan. Dokter pun menghampiriku, dan kulihat Yona berlari ke arahku dan bertanya pada dokter, rupanya Yona perhatian juga padaku, hehehe.
Kata dokter lukanya lumayan dalam, tapi beruntung tidak ada organ vital yg sampai terkena tusukan. Akupun sedikit lega, kulihat Yona menghembuskan nafas panjangnya, pertanda kalau dia juga lega. Kulihat Shanju, Kinal dan Lidya bergantian mengucapkan terima kasih padaku. Kemudian Yona duduk di sebuah kursi yg disediakan di samping ranjangku. Dia membelai rambutku, "Kak, makasi bgt yaa, maafin aku ceroboh, sampe kk jadi begini", kata Yona sambil menangis.
Aku berusaha menenangkan Yona, "Oshiku, lain kali hati2 ya, jgn lewat jalan sepi sendirian", kataku. "Iya kak, maafin aku, aku janji, aku trauma" kata Yona kepadaku. "Yona, klo berkenan, aku siap kok jagain Yona kemanapun Yona pergi, anggap aja aku bukan fans, karna kmarin adalah yg terakhir aku ke theater", kataku sok pensiun. "Yahh kok gtu sih kak? Aku kesepian donk" jawab Yona merayuku agar tidak pensiun. "Aku tersadar, untuk mendekati kamu aku gk mungkin jadi seorang Wota, karna kalian para member tidak akan pernah mau untuk mendekati seorang Wota" jawabku, membuat Yona menundukkan kepalanya. "Ya udah, apapun jln yg kk ambil, tapi tetep dukung aku ya Kak", akupun hanya mengangguk.Kemudian Yona berlalu meninggalkanku, "Yona" akupun memanggilnya kembali, lalu kuserahkan kartu namaku. "Mungkin kita gak akan pernah ketemu lagi" Tapi klo sudi, kmu bisa kontak aku ke sini ya. Yona hanya mengangguk kemudian berlalu. Kulihat matanya masih sembab karena tangisan. Dokter menyarankanku untuk opname selama 2 hari, karena aku harus dirawat hingga luka yg kualami mengering. Kantor menanggung seluruh biaya perobatanku.
Pagi ini aku terbangun karena suara pintu yg terbuka, kulihat seorang perawat masuk membawakanku sarapan kemudian mengecek infusku. Kemudian dia pun berlalu. Setelah tersadar 100%, hal pertama yg kulakukan adalah membuka HP dan mengecek twitter dan instagramku. Sebuah status di twitter menyita perhatianku, "Semoga lekas sembuh ya :(" Ya, itu adalah status dari Yona, aku yakin status ini ditujukan untukku, ini membuat tenagaku pulih kembali, the power of waro memberiku kekuatan, hehehe.
Tidak lama kemudian, pintu ruanganku diketok kembali. "Selamat pagi Kak", Oh My God, sebuah suara dan senyum manis yg begitu mempesona hadir di hadapanku memberi energy yg tak terhingga di pagi ini. Yona datang membawa parcel buah2an, dia tidak sendiri. Dia bersama ayahnya, sudah tentu refleks aku mencium tangan calon mertuaku ini, ehhhh lu bukan siapa2 bego. Hahahaha, delusi ini kembali menyerangku. "Terima kasih banyak ya Nak, klo gk ada kamu, om gk tau gmana nasib Yona, anak kesayangan om", kata ayah Yona. "Udah jadi kewajibanku sebagai seorang cowok untuk melindungi anak om" Jawabku dgn sok bijak. "Biaya Rumah Sakit om yg tanggung ya Nak" kata Ayah Yona. "Eh jangan om, sudah ditanggung oleh kantor kok, makasi ya". Lalu kami pun berbincang2 ringan hingga akhirnya dia bertanya tntang dunia peridolan, wah ini sebuah jebakan, aku gk mau dianggap sebagai Wota oleh ayah dari Oshiku.
Tapi ternyata sudah terlambat, selama ini Yona sering cerita ke ayahnya kalau akulah yg memberi Gift Iphone terbaru, akulah yg membantunya habis2an dalam Sousenkyo beberapa waktu lalu, dan akulah yg sering memborong sesi HS milik Yona. Padahal hidupku sendiri bisa dikatakan pas2an,. Ohhh tidaaaak, pupus sudah harapanku untuk mendekati Yona. "Nak, om titip Yona boleh?" Tiba2 kata2 itu mengejutkanku, "Tapi jgn sampe ketauan fans yg lain ya, tolong jagain Yona ya", aku hanya terdiam, masih belum percaya dgn perkataan ayahnya tadi. Kulihat Yona hanya tersenyum padaku. "Eeee eee iya om", kata2ku terbata2 karena grogi, Ayah Yona pun berlalu dan pergi meninggalkanku dan Yona.
Aku dan Yona pun berduaan di ruangan ini, kami mengobrol seru, mulai dari tentang pekerjaanku hingga akhirnya membahas JKT48. Inilah kesempatanku untuk mengungkapkan perasaanku yg sebenarnya.
Tanpa tersadar kami ngobrol dan Yona menyuapiku. Setelah beberapa suapan barulah aku sadar, dan ini membuatku luluh, perasaan awal yg kuanggap hanyalah cinta platonik dalam dunia delusi kini menjadi nyata. Cinta ini begitu nyata melihat perlakuan Yona terhadapku. Yona begitu telaten menyuapiku, hingga mengambilkanku segelas teh hangat yg sudah disediakan oleh perawat tadi. Tok Tok Tok, pintu itu diketok, saat dibuka ternyata beberapa teman kantorku dan bosku datang menemuiku. Mereka membawakan buah2an dan beberapa kue.
Melihat hal ini Yona segera beralih, namun kutahan tangannya. Yona tetap berdiri di sampingku. "Eh ini calonnya ya" Goda Bosku, Yona hanya tertunduk dan tersipu malu. "Ini temanku bos" jawabku. "Ya udah, cepet halalin, sebelum diambil orang lho" Kata Bosku kembali. Kami semua tertawa. Kami ngobrol2 singkat hingga akhirnya mereka pun berlalu pergi.
Yona: Kk kok perhatian bgt sih sama aku?
Aku: Perhatian gmana? Perasaan semua fans sprti itu deh
Yona: Tapi kk beda, kk selalu penuhi semua keinginanku, aku pngen iPhone kk yg beliin, aku update ukuran sepatu, kk beliin, semua kk penuhi deh
Aku: Tapi kmu suka kan?
Yona: Jujur, sbg member aku emng berharap sprti itu, tapi dlm hati kecilku, aku merasa gk enak, apalagi kk udah bnyak bantu aku
Aku: Mmmm Gimana ya? Mngkin alasanku sama dgn fans2 lain, jadi kamu akan anggap aku template
Yona: Sebagai member kami jg punya perasaan kak, tau mana yg tulus, mana yg modus
Aku: Klo aku trmasuk yg mana?
Yona: Jawab sendiri deh (Sambil memyongongkan bibirnya sprti duckface, ohhh wajahnya begitu imut dan lucu)
Hari ini entah berapa lama kami berduaan. Ini benar2 membuatku bahagia, berdua bersama Oshi, ngobrol tanpa ada waktu yg membatasi, tanpa ada sekat yg memisahkan.
Aku: Yona, apakah salah klo seorang fans sprti aku jatuh cinta ama Oshinya?
Yona: Gk ada yg salah, itu hak setiap fans, cuma kami dikasi batasan2 oleh manajemen tntang berhubungan dgn fans
Aku: Itulah salah satu alasan knp aku memutuskan berhenti dari dunia peridolan
Yona: Bukankah cinta itu tidak mengenal penghalang?
Aku: Maksudnya?
Yona: Kalo kita saling mencintai entah apapun statusnya sudah tentu gak akan mempengaruhi
Aku: Jadi, kmu cinta sama aku?
Yona: Maaf ya Kak, aku jujur ama kakak, aku gak ada rasa apapun sama kakak, maaf ya
Statement dari Yona yg membuat jantungku seakan2 berhenti, nafasku tiba2 berat, mataku tiba2 berkunang2, kata2nya lebih sakit dari pisau yg menusukku malam tadi. Aku menjadi lemas, nafsu makanku hilang seketika. "Tapi namanya perasaan, terkadang bisa berubah dgn cepat, dari benci jadi cinta, dari biasa aja, jadi ingin memiliki, biar waktu yg menjawabnya", kata2 kedua ini sedikit memberikan angin segar di dadaku. Nafasku sedikit plong, walaupun itu pertanda bahwa aku harus membuktikan cintaku padanya dan harus mampu bersaing dengan siapapun yg ingin mendekatinya.
Okeee, Semangat Dit
BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar