Kamis, 28 September 2017

Ankoru 1 - Kembang Api Itu - Ratu Vienny Fitrilya

Tidak dapat kusembunyikan kebahagiaanku saat tiba di Bandara. Kini aku berada di Jepang, sebuah Negara dimana kekasihku sedang melanjutkan study untuk S2. Btw, aku sengaja menyembunyikan hal ini ke Kak Andre loohh, rencanaku ingin memberikannya kejutan, pasti dia akan terkejut. Selama di Jepang kami tinggal di sebuah Mess dengan pintu geser dari kayu ala2 film ninja, kecuali Kak Haruka. Hari pertama di Jepang kami menghabiskan waktu dengan beristirahat, karena perjalanan yg kami tempuh sangat panjang dan melelahkan.

Nothing special on the first day in Japan, yang ada hanyalah makan, istirahat, ngobrol dan tidur. Namun sebelumnya Sensei mengumpulkan kami semua kemudian diberi instruksi dan memberikan rundown. Kulihat di rundown kami hanya memiliki waktu bebas selama 3 hari, yaitu H-3 sebelum kepulangan kami ke Indonesia. Okee it's mean, I'm going to surprise Andre berdekatan dengan kepulangan kami. Tapi bukan berarti selama di Jepang aku gak mau chat dgn Kak Andre yaa.

Hari berlalu dengan melelahkan, kulihat raut wajah Ayana, Lidya, Kak Yona tampak begitu lusuh namun bahagia, kecuali Sinka yg tampak muram dan seperti menyimpan kesedihan. Aku tau ini pasti karena kejadian di Bandara Indonesia kemarin. Kebetulan selama di Jepang, aku ditunjuk sebagai tim Leader untuk para member, karena Kak Haruka statusnya bukan member lagi.

Selamat pagi Himawariku, teruslah menyinari hatiku, I love you. Chat dari Kak Andre di pagi ini membuatku terbangun dari lelapnya tidur. Hawa dingin menusuk tubuh, namun segarnya udara pagi tidak ingin kusia2kan. Aku membereskan kasurku yg terletak di atas. Maksudnya, kami berada di satu kamar dan di kamar ini memiliki ruangan2 yang dibatasi oleh kayu dengan pintu2 geser sendiri dan setiap ruangan ada 2 kasur susun.

Di ruangan ini aku tidur di atas dan Sinka di bawah. Saat aku akan turun, kulihat kasur Sinka sudah rapi, dan dia sudah tidak ada di kasurnya. Akupun memakai jaket dan mencoba untuk keluar dari Mess ini. Wowww, suasana pagi ini begitu indah, pemandangan tepi sungai seolah2 menghipnotisku sejenak untuk menikmati indahnya alam ini. Kulihat Sinka sedang berdiri menghadap sungai yang mengalir dan terdiam. Akupun menghampirinya.

Aku berdiri di sampingnya, tidak ada kata yg keluar. Aku hanya ingin merasakan apa perasaannya saat ini tanpa harus berbicara. Sinka masih terlihat sedih, dia masih terpukul. Tapi aku juga tidak ingin melihat sahabatku terus bersedih. "Dut, klo kmu percaya sama aku, cerita masalahmu", namun Sinka hanya melihatku sambil tersenyum sambil berkata "Gak apa2 kok Vin".

Hari ini kami harus melakukan shooting di sebuah tempat. Pengambilan gambar kali ini benar2 menghabiskan waktu seharian. Di sela2 waktu itu, aku bisa telponan dgn Kak Andre dan juga ke beberapa tempat kuliner di Jepang. Setelah itu kami kembali ke Mess. Oh iya, Mess kami terletak di daerah Asakusa, Tokyo. Kegiatan kami begitu padat, dan besok kami harus mengambil gambar di tempat yang berbeda lagi.

Hari demi hari kulalui dgn kesibukan yg benar2 padat, seakan2 tidak ada celah untuk melakukan aktifitas lainnya. Seminggu ini kami berkeliling, selain melakukan berbagai aktifitas untuk program TV kerjasama Indonesia - Jepang, kami juga tidak jarang menghabiskan waktu untuk berbelanja, karena kami juga diberi uang saku oleh sponsor.

Namun hari ini begitu beda, aku benar2 kangen Kak Andre. Aneh juga rasanya aku berada di Jepang tapi gak ada kesempatan sama sekali untuk menemuinya. Kebetulan hari ini kegiatan agak sedikit longgar. Semuanya selesai pukul 7 malam. Dan hari ini teman2ku berencana untuk mengunjungi Tokyo Skytree, hanya aku yg menolak dgn alasan ingin diam di kamar. Padahal aku ingin bertemu Kak Andre, hihihi.

Di daerah Asakusa ada sebuah Taman bernama Ueno Park, ada sebuah festival kembang api pada hari ini. Aku masih bingung bagaimana caranya membujuk Kak Andre untuk mengunjungi tempat itu saat ini. Akupun menelpon Kak Andre.

Aku: Halo Kak
Kak Andre: Halo juga Himawariku, kangen ya?
Aku: Emng kk gk kangen?
Kak Andre: Klo aku setiap saat dan setiap waktu selalu kangen
Aku: Kak, aku minta sesuatu boleh gak?
Kak Andre: Minta apa sayang?
Aku: Hari ini ada Festival Kembang Api di Ueno Park, kk kesana ya
Kak Andre: Ngapain sayang?
Aku: Fotoin buat aku ya, tapi harus hari ini
Kak Andre: Hmmmm, oke deh, tapi ada alasan lain gk?
Aku: Pokoknya klo kk sayang aku, kk ksana skrg, fotoin yg banyak, rekam trus kirim ke aku ya

Kak Andre pun menurutinya, yesss langkah pertama berhasil, aku bisa menggiring Kak Andre agar mengunjungi festival itu. Skrg aku harus siap2 lebih cepat, semoga surprise kali ini benar2 berhasil membuatnya bahagia. Aku gak sabar ketemu dengannya. Akupun membayangkan apa yg akan terjadi nanti. Hehehe.

Persiapan sudah matang dan akupun berangkat menuju Ueno Park. Saat tiba kulihat kemeriahan Festival Kembang Api sudah tampak dari kejauhan. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan. Kanan kiriku terdapat bazaar kuliner dan juga berbagai permainan, tapi tidak ada yg menarik bagiku, karena saat ini hanyalah Kak Andre yg ada di pikiranku. Orang berlalu lalang, suasana festival benar2 terasa. Acara puncak yaitu peluncuran kembang api akan dimulai satu jam lagi. Ingin rasanya kuhubungi Kak Andre, namun di satu sisi aku ingin melihat bagaimana komitmennya, apakah dia akan datang karena kupinta?

Beberapa saat kutunggu dan pembawa acara pun berteriak, mengajak para pengunjung untuk berkumpul, melihat acara puncak yaitu peluncuran kembang api. Aku memilih untuk menjauh, berdiri di pinggir danau buatan sambil melihat ke arah kerumunan orang. Waktu pun telah dihitung mulai dari 20, 19, 18, 17, aku hanya terdiam menunggu kembang api itu meluncur. Aku tidak berusaha merekamnya. Yang kupikirkan saat ini hanyalah Kak Andre, dimanakah dia saat ini? Apakah dia ada di antara kerumunan2 orang itu? 10, 9, 8 waktu terus dihitung. "Viny?", tiba2 suara itu kudengar dari belakangku. Saat menoleh, kulihat Kak Andre sedang membawa Kamera.

Kulihat Kak Andre melebarkan tangannya, dan akupun berlari. Tidak peduli pada apa yg terjadi di sekitarku, aku berlari menuju Kak Andre, kemudian ku melompat dan kami pun berpelukan, pelukan yg sangat erat. 3, 2, 1 Kembang api pun meluncur dengan indahnya. Namun tidak seindah perasaanku kali ini. Tidak ada kata yg terucap, yg ada hanya air mata yg mengalir di pipiku akibat bahagia yg kutahan.



Kami berpelukan dengan latar belakang kembang api yg meletus di udara, menghasilnya bunga api raksasa yg menghiasi langit malam ini. Kembang api itu, sangatlah menyedihkan, berlangsung sebentar, cahaya indah itu hanya masa lalu sesaat. Kembang api itu sangatlah menyedihkan, di langit yang jauh, bunga yang mekar pun menghilang dalam keheningan.

Pelukanku pun terlepas, kami saling memandang. Senyuman tampak begitu lebar di wajah kami berdua. Kak Andre mengecup bibirku sesaat. "Surpriseeee" Kataku kepada kak Andre yg terus termangu melihatku. "It's more than a surprise" kata Kak Andre kepadaku. Kamipun kembali berpelukan, kemudian Kak Andre menarik tanganku. Kami menghabiskan waktu bermain di berbagai wahana permainan yg ada di Festival ini. Berlarian kesana kemari.

Kulihat Kak Andre menatapku dgn serius saat kubermain pancingan ikan. Kami berjalan di bawah terangnya lampion menuju tepi danau yg hening. Duduk di bawah pohon melihat kilatan cahaya dari kembang api yg meletus sedari tadi. Akupun tiduran di pundak Kak Andre, mengingat perjalanan cinta kami yg penuh liku. Perasaan ini muncul lagi. Perasaan pertama kali jatuh cinta dengannya. Apakah ini pertanda bahwa cintaku pada kak Andre tidak akan pernah pudar?

Kami duduk di sebuah kursi yg terletak di bawah pohon tanpa ada lampu yg menerangi. Suasana yg begitu romantis memberi kami inspirasi. Entah siapa yg mulai duluan, namun kami sudah saling berciuman. Lidah kami bermain dan cairan2 cinta itupun saling membasahi mulut kami. Waktu serasa berhenti, ciuman yg begitu dahsyat. Kami tidak peduli dgn keadaan sekitar, seakan2 hanya ada kami berdua di taman ini yg sedang memadu kasih menikmati suasana alam yg begitu mendukung.

Entah berapa lama kami berciuman, hingga Kak Andre melepas ciumannya. Tapi dia masih memegang pipiku, rasa cinta ini begitu dalam. Kini Kak Andre sudah ada di hadapanku, ingin rasanya tubuhku dijamah olehnya, ingin rasanya aku mendapatkan kenikmatan darinya. Ahhh pikiranku menjadi kacau, rasa cinta yg menggebu2 disisipi oleh nafsu yg tertahan. "Kak, aku pengen", entah kata2 itu tiba2 keluar dari mulutku secara tiba2. Kak Andre menatapku, kemudian kembali menarik tanganku mengajak ke suatu tempat.

Ada sebuah tempat di Ueno Park yg gelap dan jarang dilalui orang. Terdapat sebuah pohon besar di sana. Kak Andre mengajakku menuju ke balik pohon besar itu, kemudian dgn sigap dia membuka sabuk dan menurunkan celananya. Ini adalah kode bagiku, akupun ikut menurunkan celana kulot yg kukenakan. Kulihat penis Kak Andre belum begitu tegang, akupun jongkok di depan penisnya. Kumasukkan penisnya ke dalam mulutku.

Kuisap penisnya dgn pelan sambil kukocok. Aku memaju mundurkan kepalaku, mengocok penis Kak Andre menggunakan mulutku. Baru beberapa saat penis Kak Andre sudah sangat tegang dan keras. Melihat hal ini, segera kubalikkan badanku dan aku berpegangan pada batang pohon. Aku membelakangi Kak Andre dan sedikit kutunggingkan pantatku. Aku memejamkan mata dan kuserahkan tubuhku pada Kak Andre untuk dijamah. Entah apa yg akan dilakukannya.

Kurasakan sebuah jilatan yg menyapu kemaluanku. Ahhhh rasanya begitu nikmat. Jilatan yg membelah sela2 kemaluanku, hingga akhirnya menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaanku. Aku tidak dapat menahan nikmatnya permainan lidah Kak Andre di dalam lubang kemaluanku. Jilatan yg makin lama makin kasar, mengobok2 rongga kewanitaanku hingga membuatku makin basah.

Kemudian jilatan itu terhenti. Aku masih memejamkan mata, menahan desahan agar tidak ada yg melihat kami. Tiba2 kurasakan penis Kak Andre mencoba menerobos kemaluanku, rasa yg telah lama kurindukan kini akan kunikmati kembali. Ahhhhhhh, sungguh nikmat rasanya ketika dinding kewanitaanku diterobos oleh penis Kak Andre yg begitu keras. Ahhhhh, Ahhhhhh aku hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan yg begitu kurindukan ini. Aku menopang tubuhku pada batang sebuah pohon besar. Suasana yg begitu gelap menghalangi pandangan orang lewat.

Kak Andre terus menggenjot kemaluanku. "Ahhhh terus kak, yg cepet kak" pintaku agar Kak Andre mempercepat goyangannya. Penisnya begitu memenuhi liang kewanitaanku. Rasanya begitu dahsyat. Ahhhhhhh, rasa nikmatnya makin menjadi, genjotannya mebuatku makin kehilangan kendali, desahanku makin keras seakan2 aku tidak peduli bahwa ini adalah tempat umum. Ahhhhhh ahhhhh tiba2 ada yg mendesir dari dalam kemaluanku. Aku akan mencapai puncak. "ahhhh kak, aku mau keluar", perkataanku diikuti dgn makin kerasnya genjotan Kak Andre.

Sentuhan paha Kak Andre dan pantatku makin keras menimbulkan suara yg kurindukan. Tiba2, ahhhhhhh, aku merasakan ada yg keluar dari lubang kemaluanku. Ahhh, akupun orgasme. Lututku jadi lemah, tapi Kak Andre dgn gagahnya terus menghujamkan penisnya, makin lama makin cepat, perasaan cintaku makin dalam padanya. "Vin aku mau keluar", kata2 itu yg selalu ingin kudengar dari Kak Andre, dan dia mencabut penisnya. Aku langsung jongkok dan mengisap penisnya. Kak Andre menggoyang2kan pinggulnya dan kemudian, "Ahhhhhhhhh" terdengar suara desahan Kak Andre yg begitu panjang.

Kurasakan cairan sperma memenuhi mulutku. Cairan cinta darinya langsung kutelan habis. Kujilati ujung penis kak Andre, dan kubersihkan sisa2 sperma yg ada di ujung penisnya. Ahhhhh, betapa puasnya aku hari ini. Kami pun mengenakan celana kami, dan kembali berjalan menuju keramaian.

BERSAMBUNG
LANJUT KE ANKORU 2

Love Story Part 2 - Si Gadis Pemimpi - Viviyona Apriani

Aku si Pemimpi yang Pantang Menyerah! Aku Yona, Jiko yang diucapkan Yona dengan tegas dan lugas, video ini berkali2 kulihat, seakan2 menghipnotisku. Ya 2 hari ini aku sama sekali tidak menyentuh apapun dengan dunia peridolan kecuali melihat update twitter dan IG mereka. Tapi 2 hari ini begitu indah dan bahagia karena Yona selalu datang menjenguk dan merawatku, hingga di hari terakhir kedua orang tuaku dari Depok datang untuk mengurusku. Thanks si Pemimpi, itulah statusku terbaru di twitter. Perasaanku begitu bahagia walaupun aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Yona tidak menaruh rasa apapun padaku. Tapi aku sadar, butuh perjuangan untuk mendapatkan hati seorang member sekelas Yona.

Perjuangan pertama yg kulakukan adalah, aku berhenti untuk ngidol. Sejak saat kejadian itu aku berhenti ngidol sama sekali. Karena kebetulan aku juga mendapatkan cuti dari kantor selama seminggu, jadi aku bisa memulihkan kesehatanku di rumah. "Lagi ngapain Yona? Udah sarapan?" chat yg kukirim sejak pagi tidak ada balasan, bahkan di read pun tidak. Aku terus berpositif thinking, Yona adalah org yg sibuk, jadi tidak akan sempat baca chat.

Hari pun berlalu, hari2ku begitu kosong, aku merindukan sapaan hangat di pagi hari, suapan sarapan dari tangan yg begitu lembut, dan suara yg begitu khas dari Yona. Tapi semua sudah berlalu. "Eh sbb, aku sibuk kmarin, udah kok, kk udah?", tiba2 chat balasan dari Yona tiba sehari setelahnya.

"Oh gpp kok, aku udah sarapan, gmana keadaan kmu? Sehat kan? Jaga diri ya!" Balasku. Kutunggu balasan darinya sambil beraktifitas seperti olahraga ringan, nonton TV dan lainnya. Hingga sore hari pun tiba, ku periksa HPku, tidak ada tanda2 balasan dari Yona. Hingga akhirnya aku pun tersadar, aku bukanlah siapa2. Aku hanyalah fans biasa yg mencoba menjadikan nyata sebuah hayalan yg mustahil untuk dicapai. Tiba2 semangatku down, perasaan putus asa menghinggap di pikiranku. Eh bego lu Dit, baru 2 kali coba aja udah putus asa, gk panteng dikatakan berjuang lu.

Bener juga sih, baru gini doank udah nyerah, ahh cowok apaan aku ini. Semangatku bangkit kembali, gak peduli dibaca atau tidak, kembali kukirim chat ke Yona, "Inget pesen Papahnya, klo ada apa2 kasi tau aku, aku siap jagain kamu, aku gk mau sampe terjadi apa2 sama kmu". Akupun melepas HPku, kemudian keluar rumah untuk merasakan segarnya udara. Rutinitas ini selalu kulakukan dalam masa penyembuhanku. Hingga akhirnya malam pun tiba. Masih tidak ada balasan dari Yona.

Hari pun berganti, namun kali ini lebih menyakitkan, kulihat Yona membaca chat dariku, tapi tidak membalasnya. Oke fine, aku hanyalah punuk yg merindukan bulan. Terlalu tinggi mimpi lho Dit. Cari aja gadis Depok, jangan jauh2 ke Jakarta, ribet. Ahhh udah deh, sepertinya aku emang ditakdirkan gk akan bisa mendapatkan seorang member. Ya iyalah, siapa eluu. Wkwkwkwk.

Hari demi hari terus berganti hingga 1 pekan. Apa yg kulalui selama ini tidaklah spesial, hanya melakukan berbagai rutinitas di rumah menunggu kesembuhan saja. Untuk urusan Yona, aku sudah menguburnya rapat2, aku hanya menikmati wajahnya melalui layar laptop saja. Selebihnya hanya lewat imajinasi dan hayalan tingkat tinggi yg biasa ku lakukan sejak dulu. Bahkan hal terparah yg pernah kulakukan adalah mendownload ratusan foto2 Yona di HP, kemudian kujadikan sebagai bahan coliku di kamar mandi. Rasanya begitu nikmat membayangkan sedang bercinta dgn cewek yg dicinta, tapi itu semua hanyalah semu.

Ahh sudahlah, semua member sama, mereka emang diajarkan untuk memikat para wota. "Kak, apa kabar? maaf baru bisa hubungi kk", tiba2 chat Yona membuatku terkejut. Hmmm, bales gak ya? "Baik, kmu gmana? yaa gpp kok, ada apa nih?" Balasku dgn singkat, "Kk sibuk gak?" kembali Yona membalas, "Nggak, knp nih?" balasku, "Gak enak sih ngomongnya", balas Yona kembali, "Ngomong aja gpp ok" balasku.

Agak sedikit berbelit2 sih, tapi penasaran jg, mau ngapain? "Kak, jalan yuk", ehh wait, Yona ngajak aku jalan? Apa gk salah nih? Tanpa berpikir dan tanpa bertanya aku langsung mengiyakan, tapi apa gak salah nih? Yona seorang member, ngajak aku jalan? Apakah Yona hanya ingin balas budi terhadapku? Ataukah dia emang tulus ngajak aku jalan? Kami pun janjian di sebuah mall di Jakarta, seperti biasa, kupacu motor Varioku, motor yg menjadi saksi perjuanganku agar dikenal Oshi, perjuanganku di dunia peridolan, perjuanganku hingga kini aku bisa berhubungan langsung dgn Oshiku.

Singkat cerita, tibalah aku di sebuah Mall besar di Jakarta. Aku duduk di sebuah kursi panjang yg disediakan di mall tersebut. Melihat jam dan mengecek HP sambil menunggu Yona. Rasanya sungguh deg2an, menanti seorang wanita yg dicintai dan dipuja tiba di hadapanku. Semakin lama kunanti, semakin kencang jantungku berdetak. "Kak, udah lama ya?" Tiba2 suara itu mengalihkan perhatianku. Viviyona Apriani, seorang member JKT48 mengenakan dress korea berwarna putih dgn celana kulot lebar berwarna hitam dan semi high heels dipercantik oleh bando berukuran sedang. Wangi aroma tubuhnya benar2 menusuk hidungku hingga menuju hatiku yg terdalam, membuat perasaan cintaku seakan2 tidak mampu kubendung. "Nggak kok, baru aja", jawabku walau sedikit berbohong.

Kami berdua berjalan, menyusuri lorong mall ini, mencari tempat untuk bersantai sambil santap siang, hingga akhirnya kami masuk ke sebuah restoran Korea. Aku tidak peduli restoran apa ini, mahal atau tidak, yg penting saat ini, wanita pujaanku sedang bersama diriku. Kami pun memesan makanan.

Yona: Kak, ganggu gak?
Aku: Ya nggak donk
Yona: Oooo sukur deh, aku lagi bete aja sendirian di rmh
Aku: Bete knp?
Yona: Pingin keluar

Kami ngobrol2 singkat, mencairkan suasana. Walaupun sebenarnya suasananya sudah cair, tapi aku saja yg tegang, hehehe. Cewek cantik yg selalu hadir di hayalanku, selalu masuk dalam mimpiku, dan selalu menjadi bahan coliku (Upsss, maaf), kini ada di hadapanku, begitu cantik sempurna.

Ini makan siang terindah seumur hidupku, entah apa yg kumakan namun rasanya sangat enak, bukan karena menunya yg lezat tapi suasana ini membuat segala sesuatu menjadi enak.

Yona: Kak, aku mau tanya, tolong jawab jujur ya
Aku: Iya, tanya aja
Yona: Kk kok mau berkorban buat aku?
Aku: Knp gk tanya knp aku bisa suka ama kamu?
Yona: Ya udah deh, knp bisa suka ama aku?
Aku: Gak ada satupun dlm dirimu yg bikin aku gak suka
Yona: Ihhh gombal bgt sih
Aku: Klo mslh berkorban, itu udah naluri laki2, ingin menyelamatkan org yg lemah, apalagi saat itu kamu jadi korban
Yona: Ihhh enak aja, aku gk lemah, buktinya aku bisa joget2 sampe 2 jam lebih, hehehe
Aku: Bukan itu maksudku, intinya begitu aku tau kamu dalam bahaya, udah refleks aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kamu

Yona tersenyum mendengar jawaban dariku. Semoga ini bisa membuatnya jatuh hati, hehehe. Setelah makan kami selfie berdua. Wajah Yona begitu mempesona, membuatku terpana, walaupun aku lagi bersamanya. Yona pun meminta Bill, lalu saat pelayan memberikan bill, aku melihat harganya woww, lumayan mahal sih, aku mengeluarkan dompet, "Ehhh jangan kak, aku yg ngajak kok" Tiba2 Yona menolaknya, dan dia yg menraktirku.

Kami kembali berjalan pelan menyusuri mall ini. Canda tawa, basa basi kukeluarkan agar dia nyaman saat jalan bersamaku. Hingga akhirnya waktu berpisahpun tiba. Kami menghabiskan waktu di mall ini, Yona pun pergi meninggalkanku, dan akupun harus kembali ke parkiran dan mengambil motorku kemudian pulang ke Depok. Perjalanan yg panjang, namun hatiku berbunga2. Inti pertemuan tadi adalah PDKT, entah benar atau salah, tapi dalam hatiku, Yona ingin membuka hatinya untukku pelan2, ahhh sok bgt lu Dit, dia cuma mau balas budi doank tuh.. Ohh Shiiit, pikiran negatif selalu datang di saat yg tidak tepat.

Sejak saat itu, kami makin sering berhubungan lewat chat dan beberapa kali janjian ketemuan, walaupun hanya makan siang, ataupun makan malam saja. Tapi dalam 2 Minggu terakhir ini bisa dihitung 3 kali kami bertemu. Dan selama itu aku gak pernah mengungkapkan perasaanku lagi, karena aku ingin memberinya waktu untuk berpikir. Tapi satu penyakitku yg gak bisa ilang. Aku masih saja sering onani membayangkan bersetubuh dgn Yona, apalagi aku pernah melihat keindahan payudaranya saat kejadian bulan lalu. Payudaranya begitu mulus walaupun masih tertutupi oleh Bra. Ahhhh, ingin rasanya kusentuh dgn tanganku secara langsung.

Sebenarnya gk pantes kuceritakan tapi itulah kenikmatan yg kurasakan saat sedang membayangkan wanita yg kucinta. "Bro, lu kmana aja? Gk prnah theateran?" Tiba2 Andi mengirimiku chat, "Udah berhenti ngidol nih" jawabku, "Ahh kampret lu, jgn sok deh, besok malem lah, gk kangen ama istri lu?" jawab Andi, yaa beberapa temanku menyebut Yona dgn sebutan istriku, karena saking parahnya aku berdelusi di depan mereka, hehehe.

Aku harus menyembunyikan hubunganku dgn Yona, walaupun hubungan tanpa status tapi ini bisa membahayakan karir Yona. Akupun menolak ajakan Andi untuk theateran. Aku juga ingin menunjukkan komitmenku bahwa aku sudah berhenti ngidol. "Yona, ntar malem jalan yuuk, kan malming, hehee" Iseng ku chat Yona seperti itu, aku tidak berharap mendapatkan jawaban positif, karna niatku hanya iseng doank. "Yuuk, kebetulan lagi kosong jg ntar malem", aku mengulang2 balasan dari Yona, berkali2 aku mengulang membacanya seakan2 gk percaya klo dia mengiyakan ajakanku. Ahhhh, yesss, usaha keras gak akan menghianati, kalo masih menghianati berarti usahanya belum keras, kata2 dari Melody itu seolah2 memotivasiku.

Singkat cerita, malam pun tiba. Aku sudah standby di Jakarta sejak sore hari, seakan2 tidak ingin terlambat. Hari ini Yona ada show di theater dan aku harus menunggu hingga pukul 10 malam. Kami janjian ketemu agak jauh dari Fx, Yona berjalan kaki karena hari itu Ayahnya yg memakai mobilnya. "Kak aku udah otw ksana" Chat dari Yona membuatku deg2an kencang. Padahal ini bukanlah kali pertama aku ketemu, tapi perasaan ini gk bisa dibohongi, sensasinya selalu sama setiap bertemu.

Kulihat dari kejauhan Yona berjalan menuju ke arahku. Aku memakai kemeja lengan panjang sedangkan Yona memakai jaket Hoodie dengan penutup kepala dan masker seolah menyembunyikan jati dirinya. Yona pun naik ke atas motorku, "Kak, cari lalapan yuk" pinta Yona. Akupun memacu motorku, mencari lalapan pinggir jalan, namun tidak di sekitar Senayan tentunya.

Tibalah kami di Jakarta Barat, jauh sih, tapi tempatnya aman dari para Wota, hehehe. Kami berdua makan dgn lahapnya, setelah itu kami lanjut jalan menyusuri Kota Jakarta tanpa tujuan, tapi rasanya begitu menyenangkan, betapa bagagianya, diriku saat, kududuk berdua denganmu, potongan lirik sebuah lagu menggambarkan suasana hatiku saat ini, lalu tiba2 terasa air menetes dari langit. Ahhh ternyata hujan turun, namun hanya gerimis. Tidak menyurutkan semangatku malam ini. "Kak, boleh anter pulang gak?", hmmm pertanyaan retoris, tanpa perlu kujelaskan tentu sudah tau jawabannya, heheee.

Gerimis ini menemani kami menyusuri jalanan ibu kota yg tampak lengang. Lampu2 jalanan menambah romantisnya suasanya malam minggu kali ini. Pelukan hangat dari Yona seakan2 memberi sinyal kepadaku bahwa benih2 cinta darinya mulai muncul. Perasaan yg tak dapat tergambarkan oleh lirik apapun saat ini. Hujan yg gerimis berubah menjadi sedikit lebih deras. Cukup membuat dadaku menjadi basah dan dingin. Inisiatif dari Yona yg memelukku lebih erat membuat suasana malam ini menjadi begitu hangat. Hingga akhirnya aku tiba di depan rumah Yona.

Yona turun lalu membukakan pintu gerbangnya dan menyuruhku memasukkan motorku ke dalam halaman rumahnya. Ini berarti aku harus mampir, padahal aku berpikir aku cuma nganter doank. Ya udah deh, itung2 ketemu calon mertua, hehehe. Yona menyuruhku masuk ke ruang tamu, rumahnya tampak begitu sepi. Gk ada orang satupun, yg ada hanya kami berdua.

Tiba2 Yona keluar dari kamarnya dan memberiku sebuah kaos dan sarung. "Pake ini dulu kak, ntar bajunya aku keringin di mesin cuci", kata Yona. Ya, udah aku nurut aja, aku masuk ke kamar mandi kemudian mengganti pakaianku yg sedikit basah. Setelah keluar dari kamar mandi kuberikan pakaian basah itu ke Yona. Lalu kami pun duduk berdua di ruang tamu. "Yg lain pada kmana?" tanyaku, "Pada ke Bogor, makanya aku bete sndiri" jawab Yona. Ohh pantes aja aku disuruh masuk, hehehe.

Teh hangat dan ubi rebus menemani obrolan kami malam ini. Hujan makin deras, dan ini pertanda kalau aku harus menunggu lebih lama. Tapi selama apapun itu malah membuatku bahagia, karena ada Yona di sisiku.

Aku: Yona, mmm aku mau ngomong sesuatu boleh gak?
Yona: Ya kak, ngomong aja
Aku: Sebenarnya udah sih, cuma pingin nanya lagi, hehee
Yona: Nanya apaan kak? (sambil sedikit tersenyum)
Aku: Aku suka kamu, aku pingin jadi org spesial dalam hidup kamu
Yona: Kk emng udah spesial dari dulu kok
Aku: Aku pingin lebih dari itu
Yona: Ihhh kk, aku gk suka cowok yg berbelit2
Aku: Sorry2, gini, aku pingin jadi pacar kamu
Yona: Terus terang gtu kek dari tadi
Aku: Trus jawabannya gmana?
Yona: hmmmm, kak, tau statusku saat ini kan? aku dikekang ama manajemen, aku takutnya klo kta udah berstatus malah bikin kk kecewa
Aku: Aku udah tau kok, aku terima segala konsekuensinya

Dan sejak saat itu, kami berdua resmi berpacaran, namun dgn segala konsekuensi yg harus kujalani, mulai dari status backstreet, gk boleh share foto, gk boleh menunjukkan di publik, intinya gk boleh ada yg tau deh. "Makasi yaa Yona, aku akan selalu berkomitmen sampe kmu Grad nanti".

Kami berdua pun terdiam, aku sudah kehabisan kata2, Yona pun kehabisan bahan pembicaraan. Hatiku sedang berbunga2 jadi tidak ada tindakan lain selain tersenyum. Yona pun tersenyum ke arahku. Entah berapa lama kami saling memandang, hingga akhirnya aku mendekatinya, memeluk pinggangnya dan mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Yona memejamkan matanya dan bibir kami bertemu. Ciuman yg begitu hangat dan lembut dengan latar belakang suara hujan menambah romantisnya malam jadian kami. Permainan lidah kami begitu cekatan, saling lilit dan saling membasahi satu sama lain. Tanganku mengusap2 punggung Yona, sementara dia merangkul leherku dan mendekapnya dgn erat.

Kupeluk Yona makin erat, payudaranya terasa menekan di dadaku. Kini Yona duduk di atas pangkuanku dgn posisi menyamping. Ciuman kami masih sepanas tadi, makin lama makin liar, membuat nafasnya menjadi berat. Kurebahkan tubuh Yona di sampingku, namun ciuman kami tidak terlepas. Posisiku kini berada di atas tubuh Yona. Secara perlahan tangan kananku turun, menyusuri leher Yona, kemudian turun terus hingga menuju ke dadanya. Aku hanya mengelus2 dada Yona, aku belum berani meremasnya. Yona melingkarkan kedua kakinya ke bokongku sehingga kini posisiku terkunci.

Ciuman kami terhenti sejenak, kami saling pandang dan kemudian saling senyum. Wajah manisnya sungguh bertambah manis dilihat dari jarak sedekat ini. Bibirnya yg tipis yg hanya hadir dalam hayalanku kini dapat kurasakan dgn nyata. "Sayang, boleh gak?" tanyaku dgn nada yg sungguh pelan, Yona hanya mengangguk, pertanda dia setuju dgn maksudku. Hujan memang selalu menjadi alasan kisah cinta banyak anak manusia. Kisahku malam ini, adalah hasil dari indahnya sebuah perjuangan dan penantian. Ohh Yona, kamu milikku malam ini.

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 3

Love Story Part 1 - Indahnya Senyum Manismu - Viviyona Apriani

Ourya oiii ouryaa oii ouryaa oiii aaaa Yosseeekoooo Taiga Faiya Saiba Faiba Daiba Baiba Jyaa Jyaa. "Yosha Ikuzo woiii bukan Yosseekoo" tiba2 Andi menegurku, "Ah Bodoamat, gw dengernya Yosseekooo" akupun ngeles. Ihhh anjiiiirrr, gesrek gw, aduuuuh luchuuuu bgt, chousetzoo kawaiii Yonaaaa. Ahhh capek juga ternyata, 2 jam lebih kami jingkrak2 mengikuti show Tim J di theater. "Hai Yona, kmu keren bgt, tadi" sapaku kepada Yona saat HT, "Makasiii kak Adit" jawab Yona dgn senyum yg sungguh manis. "Woiii jalan terus, jalan", Ahhh Babe theater emng galak. Akupun keluar dari theater lalu menuju F3 dan duduk di kursi yg disediakan oleh pihak mall di samping eskalator. Aku beristirahat mengumpulkan tenaga. "Eh, gw duluan yaak" kata Andi menyapaku. Aku terbiasa sendiri, walaupun di theater aku memiliki banyak teman. Mmmmm, gk banyak sih, ada beberapa.

Rutinitas ini sudah kulalui bertahun2, pencapaian terbesarku adalah saat Oshi mengenalku dan menyebut namaku, rasanya sungguh luar biasa. Oh iya, kenalan dulu, namaku Adit, usiaku kini menginjak 24 tahun, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Rumahku cukup jauh sih, di Depok, tapi aku rela pulang pergi menaiki motor Vario kebanggaanku yg kubeli dgn hasil keringatku sendiri hanya untuk menyaksikan dan menyemangati Oshiku, Yona saat tampil.

Fx Mall mulai sepi, jam menunjukkan pukul 10 malam, ini berarti waktunya aku berpindah ke bus shelter samping Fx, tempat favorit para Wota berkumpul. Saat sedang menuruni tangga eskalator, kulihat Nadila sedang berjalan bersama seorang Staff cowok menuju parkiran mobil. Entah dia abis latihan atau apa, karena Nadila bukan tim J.

Sebenarnya ini adalah tahun ke tigaku menjadi seorang Wota, walaupun member sendiri alergi dgn sebutan Wota. Dan aku saat ini sedang merasakan titik jenuh dalam dunia peridolan. Aku beranggapan bahwa Yona telah mengenalku, dan sering memberiku waro, apalagi dia sering menyapaku. Setiap Yona menyapaku, entah saat sedang berpapasan di Mall Fx, atau saat HT atau bahkan saat Handshake event, rasanya ingin kuumumkan ke seluruh dunia, bahwa aku dikenal oleh Oshiku. Yaa, aku telah mencapai tahapan itu dan entah, apa lagi yg harus kuraih dalam dunia peridolan ini. Apakah aku harus japri, atau mungkin berhubungan langsung dgn Yona, atau bahkan memacarinya? Ahhh ini adalah imajinasi haram bagi para Wota seperti aku ini.

Mengapa aku tidak berani untuk ke tahap selanjutnya? Mengapa aku stuck hanya sampai di sini? Mengapa aku berada di titik jenuh dalam dunia peridolan ini? Sejak lama telah kupikirkan hal ini. Aku sempat mendengar sebuah skandal yg begitu heboh, yaitu Viny kedapatan janjian dgn seorang cowok di parkiran P3, dan kebetulan yg memotret saat itu adalah Andi, teman seperidolan aku. Kemudian skandal2 lainnya yg kuketahui, hingga aku mengambil kesimpulan bahwa member banyak menyembunyikan sesuatu dan golden rules hanyalah hayalan belaka.

Mengapa cowok2 tersebut dgn mudah mendapatkan member JKT48? Member2 yg dipuja2 banyak fans, para member yg diidolakan oleh jutaan orang? Berkali2 aku berpikir, hingga akhirnya aku mendapatkan satu jawaban. Cowok2 itu bukanlah Wota, mereka bisa bebas mengisi kehidupan para member, karena mereka bukanlah kami.

Akupun jadi berpikir, apakah untuk menuju ke tahap selanjutnya aku harus melepaskan predikatku sebagai seorang Wota? Ataukah aku hanya berdelusi gak jelas karna menghayal terlalu tinggi? Heiii, come on, I'm human too. Aku seorang lelaki, yg berhak mendapatkan cinta yg nyata, bukan hanya cinta platonik yg timbul di dada tanpa berharap untuk berbalas. Dit, lu cowok, lebih baik lu mundur selamanya daripada lu kalah sebelum bertarung. Hmmmm motivasi yg terus membakar semangatku.

Dunia Idol ini seharusnya menjadi hiburan bagiku, mengisi kekosongan dalam hidupku, tapi yg ada malah sebaliknya. Dunia idol ini menguras segalanya, mulai dari uang, waktu, tenaga hingga hati. Sebagai seorang Wota aku berani loyal kepada Oshiku, memberinya Gift yg tidak biasa, membantunya dalam Sousenkyo hingga menghabiskan sesi2 Handshakenya. Tujuannya apa? Hanya ingin dikenal dan diwaro oleh Yona. Dan semua itu sudah kudapatkan. Hati berkata cukup, jangan diteruskan, gak ada gunanya, tapi pikiranku berkata, kamu sudah sejauh ini, hanya inikah yg kamu dapat? Hati dan logika selalu berlawanan. Aku terus merenungi hal ini.

Keluar dari dunia peridolan sepenuhnya bagaikan kita berjanji untuk berpola hidup sehat, niat selalu ada, tapi selalu ada alasan untuk menundanya. Pernah suatu waktu aku vakum dari dunia idol ini hingga 1 bulan, tapi tiba2 muncul lagi hanya karena melihat Yona tampil di sebuah acara TV. Apakah JKT48 yg mempengaruhiku? Ataukah hanya Yona seorang?

Aku mengendarai motor menyusuri gelapnya malam, hingar bingar kehidupan ibu kota sudah kulalui. Jalan ini selalu kutempuh hampir setiap hari. Aku melamun, membayangkan bagaimana jika Yona menjadi pacarku. Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam daftar wota yg dikenal oleh member. Ya, memang hari2ku selalu dipenuhi dgn delusi. "Aaaaaaaa toloooooong, jangaaaan", Haaaah, tiba2 kudengar suara itu. Jalanan yg begitu sepi ini lalu terdengar suara seorang wanita minta tolong. Naluri kelakianku timbul, aku berhenti memarkirkan motorku di pinggir jalan, lalu mendekati sumber suara itu.

Ohhh noooo, itu Yona, dia sedang didekap oleh 2 orang cowok, ahhh tidak, Oshiku, akupun berlari dgn kencang kemudian mengarahkan tendanganku ke punggung salah satu cowok itu. Dia pun jatuh tersungkur, akupun membuka helmku dan menghajar kepala cowok yg satu lagi. Aku sedang di atas angin, cowok itu terlihat kesakitan tapi aku ingin menghajarnya habis2an, dia telah menyakiti Oshiku.

Tiba2, aaaaaaakkk, tidaaak, rasanya sakit sekali, ada yg menancap di pinggangku, "Aaaaaaaaaa" Kudengar suara teriakan Yona begitu keras. Kulihat kedua cowok tadi berlari menjauh. Kurasakan ada sesuatu di pinggangku, dan itu adalah sebuah pisau. Akupun terjatuh, "Kaaak Adiit, tahan ya Kak" Yona menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Pandanganku makin buram, rasa sakit yg kurasakan berubah menjadi dingin yg menusuk, kakiku seperti mati rasa. "Toloooooooooong" Suara Yona memekik heningnya malam.

"Toloooooooong" Yona terus berteriak, kulihat bajunya sobek hingga memperlihatkan Bra yg dikenakannya. Kulepaskan jaketku, "Kaak Jangan bergerak, tunggu pertolongan ya", Kata Yona begitu perhatian, tapi aku tidak tega melihat kemulusan kulitnya terpampang jelas seperti ini. Kulepas jaketku dan kupaksa Yona untuk mengenakannya. Dan akupun kembali terjatuh di pangkuan Yona, dingin makin menusuk, pinggangku mengeluarkan banyak darah, kini tanganku yg mati rasa, dan semua berubah menjadi gelap.

Lalu tiba2 sebuah cahaya yg begitu terang mengagetkanku. Aku terbangun di sebuah ruangan, kulihat kanan kiriku ada perban, gunting dan peralatan operasi lainnya. Akupun tersadar ini adalah Rumah Sakit. Saat kutoleh kepalaku, kulihat Yona duduk di sebuah sofa, sedang menangis tersedu2, kulihat Shanju, Kinal dan Lidya sedang menenangkannya. Kulihat jaketku masih dikenakan olehnya. Ahhhh, apakah aku naik tingkat lagi? Sebuah pemikiran yg membuatku tersenyum dan melupakan sejenak rasa sakit yg kurasakan. Dokter pun menghampiriku, dan kulihat Yona berlari ke arahku dan bertanya pada dokter, rupanya Yona perhatian juga padaku, hehehe.

Kata dokter lukanya lumayan dalam, tapi beruntung tidak ada organ vital yg sampai terkena tusukan. Akupun sedikit lega, kulihat Yona menghembuskan nafas panjangnya, pertanda kalau dia juga lega. Kulihat Shanju, Kinal dan Lidya bergantian mengucapkan terima kasih padaku. Kemudian Yona duduk di sebuah kursi yg disediakan di samping ranjangku. Dia membelai rambutku, "Kak, makasi bgt yaa, maafin aku ceroboh, sampe kk jadi begini", kata Yona sambil menangis.

Aku berusaha menenangkan Yona, "Oshiku, lain kali hati2 ya, jgn lewat jalan sepi sendirian", kataku. "Iya kak, maafin aku, aku janji, aku trauma" kata Yona kepadaku. "Yona, klo berkenan, aku siap kok jagain Yona kemanapun Yona pergi, anggap aja aku bukan fans, karna kmarin adalah yg terakhir aku ke theater", kataku sok pensiun. "Yahh kok gtu sih kak? Aku kesepian donk" jawab Yona merayuku agar tidak pensiun. "Aku tersadar, untuk mendekati kamu aku gk mungkin jadi seorang Wota, karna kalian para member tidak akan pernah mau untuk mendekati seorang Wota" jawabku, membuat Yona menundukkan kepalanya. "Ya udah, apapun jln yg kk ambil, tapi tetep dukung aku ya Kak", akupun hanya mengangguk.

Kemudian Yona berlalu meninggalkanku, "Yona" akupun memanggilnya kembali, lalu kuserahkan kartu namaku. "Mungkin kita gak akan pernah ketemu lagi" Tapi klo sudi, kmu bisa kontak aku ke sini ya. Yona hanya mengangguk kemudian berlalu. Kulihat matanya masih sembab karena tangisan. Dokter menyarankanku untuk opname selama 2 hari, karena aku harus dirawat hingga luka yg kualami mengering. Kantor menanggung seluruh biaya perobatanku.

Pagi ini aku terbangun karena suara pintu yg terbuka, kulihat seorang perawat masuk membawakanku sarapan kemudian mengecek infusku. Kemudian dia pun berlalu. Setelah tersadar 100%, hal pertama yg kulakukan adalah membuka HP dan mengecek twitter dan instagramku. Sebuah status di twitter menyita perhatianku, "Semoga lekas sembuh ya :(" Ya, itu adalah status dari Yona, aku yakin status ini ditujukan untukku, ini membuat tenagaku pulih kembali, the power of waro memberiku kekuatan, hehehe.

Tidak lama kemudian, pintu ruanganku diketok kembali. "Selamat pagi Kak", Oh My God, sebuah suara dan senyum manis yg begitu mempesona hadir di hadapanku memberi energy yg tak terhingga di pagi ini. Yona datang membawa parcel buah2an, dia tidak sendiri. Dia bersama ayahnya, sudah tentu refleks aku mencium tangan calon mertuaku ini, ehhhh lu bukan siapa2 bego. Hahahaha, delusi ini kembali menyerangku. "Terima kasih banyak ya Nak, klo gk ada kamu, om gk tau gmana nasib Yona, anak kesayangan om", kata ayah Yona. "Udah jadi kewajibanku sebagai seorang cowok untuk melindungi anak om" Jawabku dgn sok bijak. "Biaya Rumah Sakit om yg tanggung ya Nak" kata Ayah Yona. "Eh jangan om, sudah ditanggung oleh kantor kok, makasi ya". Lalu kami pun berbincang2 ringan hingga akhirnya dia bertanya tntang dunia peridolan, wah ini sebuah jebakan, aku gk mau dianggap sebagai Wota oleh ayah dari Oshiku.

Tapi ternyata sudah terlambat, selama ini Yona sering cerita ke ayahnya kalau akulah yg memberi Gift Iphone terbaru, akulah yg membantunya habis2an dalam Sousenkyo beberapa waktu lalu, dan akulah yg sering memborong sesi HS milik Yona. Padahal hidupku sendiri bisa dikatakan pas2an,. Ohhh tidaaaak, pupus sudah harapanku untuk mendekati Yona. "Nak, om titip Yona boleh?" Tiba2 kata2 itu mengejutkanku, "Tapi jgn sampe ketauan fans yg lain ya, tolong jagain Yona ya", aku hanya terdiam, masih belum percaya dgn perkataan ayahnya tadi. Kulihat Yona hanya tersenyum padaku. "Eeee eee iya om", kata2ku terbata2 karena grogi, Ayah Yona pun berlalu dan pergi meninggalkanku dan Yona.

Aku dan Yona pun berduaan di ruangan ini, kami mengobrol seru, mulai dari tentang pekerjaanku hingga akhirnya membahas JKT48. Inilah kesempatanku untuk mengungkapkan perasaanku yg sebenarnya.

Tanpa tersadar kami ngobrol dan Yona menyuapiku. Setelah beberapa suapan barulah aku sadar, dan ini membuatku luluh, perasaan awal yg kuanggap hanyalah cinta platonik dalam dunia delusi kini menjadi nyata. Cinta ini begitu nyata melihat perlakuan Yona terhadapku. Yona begitu telaten menyuapiku, hingga mengambilkanku segelas teh hangat yg sudah disediakan oleh perawat tadi. Tok Tok Tok, pintu itu diketok, saat dibuka ternyata beberapa teman kantorku dan bosku datang menemuiku. Mereka membawakan buah2an dan beberapa kue.

Melihat hal ini Yona segera beralih, namun kutahan tangannya. Yona tetap berdiri di sampingku. "Eh ini calonnya ya" Goda Bosku, Yona hanya tertunduk dan tersipu malu. "Ini temanku bos" jawabku. "Ya udah, cepet halalin, sebelum diambil orang lho" Kata Bosku kembali. Kami semua tertawa. Kami ngobrol2 singkat hingga akhirnya mereka pun berlalu pergi.

Yona: Kk kok perhatian bgt sih sama aku?
Aku: Perhatian gmana? Perasaan semua fans sprti itu deh
Yona: Tapi kk beda, kk selalu penuhi semua keinginanku, aku pngen iPhone kk yg beliin, aku update ukuran sepatu, kk beliin, semua kk penuhi deh
Aku: Tapi kmu suka kan?
Yona: Jujur, sbg member aku emng berharap sprti itu, tapi dlm hati kecilku, aku merasa gk enak, apalagi kk udah bnyak bantu aku
Aku: Mmmm Gimana ya? Mngkin alasanku sama dgn fans2 lain, jadi kamu akan anggap aku template
Yona: Sebagai member kami jg punya perasaan kak, tau mana yg tulus, mana yg modus
Aku: Klo aku trmasuk yg mana?
Yona: Jawab sendiri deh (Sambil memyongongkan bibirnya sprti duckface, ohhh wajahnya begitu imut dan lucu)

Hari ini entah berapa lama kami berduaan. Ini benar2 membuatku bahagia, berdua bersama Oshi, ngobrol tanpa ada waktu yg membatasi, tanpa ada sekat yg memisahkan.

Aku: Yona, apakah salah klo seorang fans sprti aku jatuh cinta ama Oshinya?
Yona: Gk ada yg salah, itu hak setiap fans, cuma kami dikasi batasan2 oleh manajemen tntang berhubungan dgn fans
Aku: Itulah salah satu alasan knp aku memutuskan berhenti dari dunia peridolan
Yona: Bukankah cinta itu tidak mengenal penghalang?
Aku: Maksudnya?
Yona: Kalo kita saling mencintai entah apapun statusnya sudah tentu gak akan mempengaruhi
Aku: Jadi, kmu cinta sama aku?
Yona: Maaf ya Kak, aku jujur ama kakak, aku gak ada rasa apapun sama kakak, maaf ya

Statement dari Yona yg membuat jantungku seakan2 berhenti, nafasku tiba2 berat, mataku tiba2 berkunang2, kata2nya lebih sakit dari pisau yg menusukku malam tadi. Aku menjadi lemas, nafsu makanku hilang seketika. "Tapi namanya perasaan, terkadang bisa berubah dgn cepat, dari benci jadi cinta, dari biasa aja, jadi ingin memiliki, biar waktu yg menjawabnya", kata2 kedua ini sedikit memberikan angin segar di dadaku. Nafasku sedikit plong, walaupun itu pertanda bahwa aku harus membuktikan cintaku padanya dan harus mampu bersaing dengan siapapun yg ingin mendekatinya.

Okeee, Semangat Dit

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 2

Hidden Story Part 3 - Hasrat Terpendam - Shinta Naomi

Aku hanya terdiam sejenak, merasa khilaf. Aku mencintai adiknya, namun aku menyetubuhi kakaknya. Manusia macam apa aku ini? Naomi masih membelakangiku, dan tiba2 kudengar suara isak tangis dari Naomi. Kubelai rambutnya, "Jangan sentuh aku", tiba2 Naomi membentakku, dia terbangun dan masuk ke kamar mandi. Rupanya dia menangis di kamar mandi. Ahhhh, apa yg sudah kulakukan, aku sudah mengacaukan segalanya. Padahal selangkah lagi aku akan jadian dgn Sinka dan bisa berhubungan dengan bahagia, tapi nafsu mengalahkan semuanya. Aku coba masuk ke kamar mandi, kuputar gagang pintu kamar mandi itu dan terbuka. Rupanya Naomi tidak mengunci kamar mandi.

Dia menangis menghadap ke cermin sambil memegang wastafel. Aku kembali memegang rambutnya, kemudian memeluk lehernya. "Kenapa kmu lakukan ini?" Tanya Naomi dgn suara yg begitu sedih, "Maaf ya Naomi, aku khilaf, aku sedang dikuasai nafsu". Kemudian Naomi menyenderkan kepalanya di pundakku. Aku mengelus2 rambutnya, "Kamu mau kan maafin aku?" Pintaku, "Tapi gmana Dudut?" Tanya Naomi, "Dia jangan sampe tau" pintaku kembali. Tangisan Naomi sedikit mereda, dia masih tiduran di pundakku. Perbuatan nakal ini membuat kami tidak sadar kalau kami masih dalam keadaan telanjang bulat.

Kami saling melihat satu sama lain melalui cermin di depan kami. "Kamu jangan sakitin Dudut ya" Pinta Naomi kepadaku, "Iya Naomi, aku cinta sama Dudut", jawabku. Kemudian Naomi tersenyum padaku.

Melihatnya tersenyum aku jadi lega, perasaan bersalahku pun hilang berganti dgn perasaan bahagia. Aku masih memeluk lengannya dan Naomi masih menyenderkan kepalanya di pundakku. "Tapi tadi kamu menikmatinya kan?" Tanyaku iseng, "He eh", jawab Naomi singkat, "Suka gak?" tanyaku kembali, "Iya aku suka" jawab Naomi, "Trus knp kamu nangis?" tanyaku, "Abis kmu nakal, cintanya ama adikku, tapi MLnya ama aku" jawab Naomi sambil cemberut, "Mandi yuk" kataku. Kemudian Naomi hanya mengangguk. Kuisi bath up dengan air hangat dan beberapa menit kemudian penuh.

Kami berdua masuk ke dalam bath up dgn air hangat. Di dalam bath up kami berdua hanya terdiam sambil menikmati berendam di air hangat. "Minta tolong lap punggungku donk", Naomi minta tolong padaku, kemudian dia duduk membelakangiku. Kuambil wash lap, sebuah handuk kecil yg kucampur dgn sedikit sabun cair dan mulai mengoleskannya ke punggung Naomi. Punggungnya begitu mulus dan licin, kulitnya begitu putih. Kubersihkan punggungnya dgn merata. Kemudian kulemparkan wash lap tadi ke pinggir bath up. Aku menggantinya dgn tanganku. Tanganku merasakan lembutnya punggung Naomi. Tanganku yg semula hanya "bermain" di punggungnya kemudian berpindah ke depan.

Kusentuh samping payudaranya, hingga kugenggam buah dadanya. Kuremas dgn perlahan, kutarik tubuh Naomi agar dia menyandar di tubuhku. Kini tubuh Naomi bersandar pada tubuhku, sementara kedua tanganku tengah sibuk meremas payudaranya sambil sesekali memainkan puting susunya. Kulihat Naomi hanya memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya.

Pikiranku kembali kacau, ahhh apa yg kulakukan ini, aku tidak sanggup melanjutkannya, tapi di satu sisi, apakah aku akan menyia2kan seorang gadis cantik yg tengah bugil di depanku dan sedang dikuasai oleh nafsu ini? Tangan kiriku meremas dgn lembut, sementara itu tangan kananku mulai turun dan menuju ke selangkangannya. Secara refleks Naomi mengangkangkan kedua kakinya, hingga tanganku dapat dgn leluasa menyentuh kemaluannya. Kumainkan klitoris Naomi dan kemudian jariku berusaha untuk menerobos ke dalam liang kewanitaannya. Kurasakan cairan pelicin yg sudah membasahi lubang senggama milik Naomi ini.

Hanya dgn sekali percobaan jariku sudah mampu masuk ke dalam kemaluan Naomi. Kurasakan cairan yg membasahi jariku, membuat dinding vaginanya menjadi licin. Naomi menggelinjang dan mendesah mendapat perlakuan seperti ini dariku. Naomi menyandarkan kepalanya dan menghadap ke arahku, tangannya meraih kepala belakangku kemudian ditariknya hingga kami pun berciuman.

Lidah kami bermain begitu dahsyat, mengiringi nafsu yg mendesir di tubuh kami. Penisku yg tegang seakan2 terasa tertahan karena masih tertekan oleh bokong Naomi yg bersender di tubuhku. Semakin kupercepat kocokan jariku di dalam vagina Naomi. Goyangan pinggulnya makin kencang seirama dgn desahan yg makin keras dengan suara Naomi yg begitu khas.

Suara gemericik air akibat kocokanku ke dalam lubang kewanitaan Naomi menambah nikmatnya suasana malam ini. Ciuman Naomi makin kasar, permainan lidahnya di dalam mulutku benar2 gila, hingga akhirnya Naomi mengangkat pantatnya seakan2 membantu jariku agar masuk makin dalam. Makin kupercepat permainan jariku, sementara tangan kiriku terus memainkan puting susunya yg sudah mengeras sejak tadi. Mmmmmphhhh mmpphhhhhh Naomi sepertinya ingin berkata sesuatu, namun ciuman kasar kami membungkam mulutnya. Dan tiba2 tubuh Naomi mengejang, ahhhhhhh kak, aku keluar, ahhhhh, tiba Naomi melepas ciuman kami dan berteriak.

Begitu cepatnya cewek ini orgasme, aku kembali menciumnya dgn lembut. Kami berciuman dgn mesra, namun kali ini tangan Naomi yg bergerilya, dia mengocok penisku. Rasanya begitu luar biasa saat Naomi dgn terampil memainkan penisku. Beberapa menit dia melakukan itu membuatku tak tahan ingin segera menikmati lubang kewanitaannya. Kusuruh Naomi berdiri membelakangiku. Naomi berpegangan pada bibir bath up sehingga posisinya nungging saat ini. Namun aku tidak ingin segera menghajar lubang kemaluannya dgn penisku. Kujilati vagina Naomi, ahhhhhh geli bgt ahhhh. Naomi hanya meracau merasakan jilatanku.

Rasa asinnya membuatku makin liar, kusapu cairan2 kenikmatan yg tersisa di kemaluan Naomi. Kurasakan bulu2 halus sedikit mengganggu lidahku. "Masukin donk, pliiis" Tiba2 Naomi merengek padaku. Tapi kali ini aku yg pegang kendali, aku terus menjilati kemaluannya.

Stefan masukin donk, pinta Naomi dgn suara yg sangat manja dicampur desahan yg begitu membuatku makin gila. "Masukin, entot aku, ahhhhhh" Rupanya Naomi sudah benar2 gak tahan ingin segera merasakan rudalku. Akupun berdiri dan mengarahkan penisku ke lubang kemaluannya. Dengan sekali hentakan, ahhhhhhhhh desahan Naomi begitu panjang seiring dengan masuknya penisku ke dalam vaginanya. Kugenjot Naomi dgn penuh semangat dan tempo yg sedang. Kupegang kedua payudaranya, dan ini membuat Naomi hanya memejamkan mata sambil mendesah.

Bongkahan pantat Naomi menambah pemandangan indah di hadapanku. Kuhajar lubang kenikmatannya tanpa ampun. "Ahhhhh ahhhhh terus, yg kenceng" Naomi makin liar. Genjotanku makin keras dan cepat. Suara nyeplak terdengar begitu keras akibat benturan pantat Naomi dan pahaku. Genjotanku makin keras, kuremas pantat Naomi hingga lubang anusnya sedikit terlihat. Ahhhhhh, aku tidak sanggup menahan kenikmatan ini, ahhhhh ahhhhh, lubang yg begitu nikmat. Cewek cantik ini benar2 membuatku tergila2 dan ahhhhhhh crot crot crot, lebih dari 8 kali spermaku menyembur di dalam kemaluan Naomi. Akupun memeluk tubuhnya dan tidak ingin buru2 mencabut penisku.

Naomi hanya mendesah pelan dan, "Kamu udah keluar?" Tanya Naomi, "Iya, udah" jawabku, "Kok keluar di dalem sih?" Tanya Naomi kembali dgn nada kesal, kemudian Naomi menarik tubuhnya hingga penisku terlepas dari lubang kenikmatannya. "Kok kamu keluarin di dalem Stefan?" Dia kembali bertanya padaku, aku tidak tau mau jawab apa. "Kalo aku hamil gimana coba? Siapa yg mau tanggung jawab?", Naomi terus mengomel.

Lagian kamu udah besar kok masih aja bego sih, udah tau mau keluar gak langsung dicabut, malah ngecrot di dalem, Kamu mikirin enaknya aja sih, gk mikirin ke depannya gmana. Seakan2 gak pernah puas, Naomi terus mengomeliku sambil melanjutkan mandi. Akhirnya kami berdua pun selesai mandi dan kami memakai pakaian kami masing2. Naomi rebahan di kasur karena kecapean, sedangkan aku duduk di sofa.

Kamu kok entot aku lagi sih? Tanya Naomi dgn bahasa yg frontal. "Maaf aku khilaf" Lagi2 jawabanku hanya itu saja. "Goblok, klo khilaf itu sekali, klo dua kali namanya demen", jawab Naomi dgn nada kesel, "Iya demen jg sih" jawabku dgn nada bercanda. "Trus skrg gmana nasib Dudut?" tanya Naomi. "Ya udah, ntar dia balik ke Indonesia aku pacari deh", jawabku. "Pokoknya kamu harus pacaran ama dia" kata Naomi. "Tapi Aku mulai sayang ama kamu" aku mencoba jujur. "Jangan ngaco, pokoknya kmu harus ama Dudut" jawab Naomi dgn tegas. "Kok kamu maksa aku sih? Aku mulai sayang ama kamu, emng gk boleh?" jawabku kembali. Naomi hanya terdiam.

Aku menghampirinya dan rebahan di sampingnya. Kubelai rambutnya sambil berkata, "Aku jujur, aku mulai ada rasa ama kamu", Naomi hanya menatapku dgn mata sayunya. "Udah ahh, yuuk keluar, ntar pengen ngentot lagi lu", kemudian Naomi berdiri dan kamipun beranjak turun menuju parkiran. Naomi saat ini tinggal di Apartment Viny, namun kuajak makan malam terlebih dahulu.

Saat makan malam aku terus mengungkapkan perasaanku padanya. Klo boleh jujur, perlakuannya padaku selama aku di Rumah Sakit sudah membuatku jatuh hati padanya. Berkali2 aku mengatakan demikian namun tidak digubris sedikitpun. Dia hanya sibuk memainkan HPnya. Ini membuatku kesal, bener2 kesal. Akhirnya akupun diam. Makanpun sudah kami habiskan, tanpa berkata apapun, aku membayar makanan tersebut dan naik ke atas motor. Sempat ditanya olehnya, "Mau kmana skrg?" Aku hanya diam sambil kemudian memasang helmku.

Sepanjang perjalanan Naomi coba berbicara padaku, tapi aku cuekin. "Kamu knp sih?" Tanya Naomi, tapi tidak kujawab sedikitpun. Sampai akhirnya tiba di Apartment Viny. Naomi membuka helmnya dan kembali bertanya padaku, "Kamu marah ya?" Tidak kujawab sama sekali. Kupalingkan wajahku kemudian kutancap gas dan pergi meninggalkannya. Ahhh sial, knp egoku begitu tinggi ya. Aku terus menancap gas hingga akhirnya aku tersadar, gk pantes sbg seorang cowok bertindak sprti itu. Tapi dia nyuekin aku dari tadi, ahhh sudahlah bodoamat.

Aku terus menancap gas dgn rasa ego yg tinggi ditambah emosi yg terbakar di dada. Aku males berurusan dgn cewek yg sok jual mahal seperti Naomi. HPku terus berdering, aku tau Naomi terus berusaha menelponku namun tidak kuhiraukan sama sekali.

Oh My God, apa yg sudah kulakukan? Aku sudah menidurinya dan aku bersikap seperti ini? Cowok macam apa aku ini tega memperlakukan cewek seperti itu. Ahhh shiiiit, apakah aku harus menghilangkan egoku sejenak? Tapi ungkapan cintaku hanya ditanggapi dingin olehnya. Lalu bagaimana dgn Dudut? Aku sudah bermain api dan mulai terbakar. Akupun menepi dan kuambil HPku dari kantong celanaku. Saat kulihat ternyata Naomi terus menghubungiku, kasian juga klo dicuekin.

Aku: Yaa kenapa
Naomi: Jgn gtu donk jawabnya
Aku: Emng kenapa?
Naomi: Kmu marah ya?
Aku: Bukan urusanmu, udah ya
Naomi: Ya udah deh, padahal aku minta ditemenin tidur malem ini




Tiba2 Naomi menutup telponnya. Ohhh noooo, ajakan itu, ahhh pikiranku kembali kacau. Huuuhhh, ahh sudahlah, daripada aku jadi gila. Kembali kutancapkan gas motorku. Kulalui kendaraan2 yg menghalangi jalanku. Aku lagi males berpikir. Ciiiiiitttt, suara rem itu begitu garang. Aku tiba di suatu tempat dan kulihat senyumannya ke arahku, ternyata Naomi masih duduk setia menantiku. Kami pun saling tersenyum, dan malam ini aku tidur dengan Naomi. Ahhhhh betapa indahnya hidupku

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 4

Hidden Story Part 2 - Resah - Shinta Naomi

Beberapa hari ini kuisi dgn merenung. Apakah tindakanku terlalu keras dengan meninggalkan mereka berdua? Dudut coba meninggalkanku karena dia dia ingin melukai hati kakaknya yg ternyata memendam rasa cinta kepadaku, dan sebaliknya, Naomi harus berbohong pada Dudut karena dia tau kalo aku dan Dudut saling mencintai. Tapi, darimana Naomi tau? Apakah dari gigauanku saat sedang koma? Naomi sudah menunjukkan rasa cintanya padaku, hanya dialah yg merawatku saat kecelakaan. Dia merawatku dgn penuh kasih sayang, padahal kata perawat saat itu aku selalu menggigau nama Dudut. Tapi Naomi terus merawatku dgn ikhlas.

Sore ini aku hanya duduk dan diam di depan kost, menghabiskan sebotol Mizone sambil memandang langit. "Bro, lu ikut main bola gak?" Kata salah seorang teman kostku, "Nggak bro, gw diem di sini aja" jawabku. Entah mengapa, semakin hari aku ingin melupakan mereka berdua, tapi di sisi lain aku berpikir mereka sudah baik terhadapku. Apakah ini balasan untuk mereka? Terutama Naomi?

Aku bersandar pada pilar penyangga di setiap beranda kamar kost. Salah satu spot favoritku kalau sedang berada di kost. Waktu serasa lambat, Dudut dan Naomi terus terngiang di otakku, tiba2 HPku bergetar. Kurogoh kantongku dan kulihat layar HPku, sebuah nomor asing menghubungiku.

"Halo Kak, mengganggu gak?", suara seorang wanita dengan lembut, "Nggak, maaf ini siapa?" Jawabku, "Ini Viny kak". Haah, Viny menelponku, aku sempat terkejut. "Eh iya Vin, apa kabar?" tanyaku, "Baik Kak, kk gimana?", tanya Viny balik, "Aku juga baik, ada apa nih Vin?". "Begini kak, Kak Naomi dan Dudut itu sahabatku, aku gak tega ngeliat mereka berdua bersedih", kata Viny. Aku sudah tau akan kemana arah pembicaraan ini.

Viny terus berkata dgn suara keras "Apakah berlebihan seorang adik berkorban demi kakaknya, dan juga sebaliknya?", "Iya Vin, aku tau, tapi di sini aku yg jadi korban" kataku berusaha menjawabnya. "Kak Stefan bukan korban, Klo Dudut yg mundur, Kakak akan dapet Kak Naomi, klo Kak Naomi mundur, Kakak akan dpt Dudut, tapi sikap Kakak justru mengorbankan keduanya". Kata2 Viny membuatku terdiam dan berpikir keras.

Sore ini terasa begitu mencekam di dalam hatiku, bukan karena suasana ataupun keadaan, melainkan karena emosi sesaat yg sempat muncul di dalam benakku, "Cinta itu pengorbanan, bukan mengorbankan", suara itu dengan lantang berbicara keras di HPku sejak tadi. Ya itu suara Viny yg marah terhadapku, "Kamu klo merasa udah berkorban buat Dudut, apakah harus mengorbankan perasaan Dudut?" kata Viny kembali, "Dan kamu gk harus mengorbankan perasaanmu jg, ingat, kamu cowok, yg seharusnya lebih ngerti hal ini".

"Kak Naomi sudah mundur, benar2 mundur, dan dia benar2 marah kalau sampe Dudut ninggalin Kak Stefan", kata Viny. "Klo emang kak Stefan gk punya perasaan, silahkan aja, kakak tinggalin Dudut dan cari yg lain, udah dulu ya, pulsa mahal, bye" Kemudian Viny menutup telponnya. Seperti Viny benar2 marah karena sikapku yg seperti ini. Aku jadi tersadar, memang gak seharusnya aku mengedepankan emosi. Apalagi pada 2 wanita yg memang sedang butuh sosok seorang lelaki sejak ditinggal ayahnya. Ahh sudahlah, ini gak bisa dibiarkan.

Aku masuk ke kamarku, mengambil jaket dan helm, kemudian aku memacu motorku menuju kost Naomi. Saat tiba ternyata hanya ada ibunya, Kata beliau Naomi sedang show di theater. Tanpa pikir panjang aku ngebut menuju Fx Sudirman. Setelah tiba kutunggu hingga show berakhir. Aku sudah tau jam brp show berakhir dan jam brp para member keluar dari theater. Kutinggalkan pesan melalui SMS ke Naomi. Kutunggu di depan pintu samping GBK. Beberapa lama kemudian kulihat seorang wanita dgn langkah tegap dan kepala tertunduk sedang berjalan ke arahku, ya itu Naomi.

Kusuruh dia naik motorku, awalnya dia menolak, tapi kubujuk dan kurayu akhirnya dia naik ke atas motorku. "Aku pingin ngomong serius", kataku, "Ya udah ngomong aja", jawab Naomi. "Ya Jangan di jalan jg, mending cari tempat", kemudian Naomi menawarkan untuk bicara di Apartment Viny. Kami pun menuju ke Apartment Viny yg letaknya gak jauh dari Fx.

Setiba di Apartment, kami berdua masuk ke kamar Viny, dan pembicaraan pun dimulai.

Aku: Apa bener kata Viny, kamu mundur?
Naomi: Tolong jgn bicarain itu ya
Aku: Kamu sahabat terbaik aku, lebih baik aku yg mundur dari kalian berdua
Naomi: Jgn ngomong gtu, tolong jgn sakiti perasaan Dudut
Aku: Aku jg gk mau nyakitin perasaan kamu
Naomi: Aku gpp kok, perasaanku gk terlalu dalem ke kamu

Aku pun tersenyum lega mendengar hal ini, kulihat senyum manis di wajah Naomi, ini benar2 membuatku merasa plong. Aku hanya ingin memastikan bahwa sahabatku yg cantik ini tidak akan tersakiti oleh pilihanku. Aku memeluknya dgn erat, aku merasa bangga memilikinya. Naomi balik memelukku, nafasnya begitu dalam. Aku tau dia agak berat meninggalkanku, tapi aku juga tau, dia adalah wanita yg kuat dan tangguh. Pelukan kami begitu hangat dan penuh makna. Rasanya tidak ingin kulepas, pelukan yg erat hingga aku dapat merasakan detak jantungnya.

Aku mengusap2 punggungnya, entah berapa lama aku berpelukan, namun ini pertama kalinya aku berpelukan dengan Naomi. Kucium wangi rambut panjangnya yg lurus, benar2 harum dan membuatku sakaw. Kuraih leher Naomi lalu kumundurkan badannya. Tanganku menopang kepalanya. Wajah kami saling pandang dgn jarak yg begitu dekat. Aroma nafasnya tercium masuk ke dalam hidungku, hangatnya terasa begitu menenangkan hati. Wajah kami makin dekat, Naomi memejamkan matanya.

Ohhhh, wajah ini begitu cantik, nafasnya begitu lembut, bibirnya begitu tipis, dan akhirnya. Mmmmppphhhh Mmmmpphhh mmmhhhh, kami berciuman dgn sangat mesra. Sebuah ciuman yg terakhir kali kurasakan beberapa Minggu lalu saat bersama adiknya. Naomi meraih kepalaku, menekannya agar ciuman kami makin dalam. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sudah lama mulutku tidak merasakan segarnya air liur seorang gadis cantik yg begitu dekat denganku. Lidah kami melilit satu sama lain. Mulut kami terbuka untuk terus menikmati permainan lidah, Naomi terus menarik kepalaku seiring dgn dia merebahkan tubuhnya.

Kusentuh buah dada Naomi. Kuremas dgn perlahan dan penuh dgn kehati2an, aku tidak ingin menyakitinya. Tanganku kiriku terus bergerilya di area buah dada Naomi sementara tangan kananku dijadikan penyangga leher Naomi. Seakan2 masih kurang, tangan kiriku menyelinap, menerobos masuk dengan menyingkapkan kaos yg dia kenakan. Kurasakan lembut kulit perut Naomi. Lalu tanganku terus naik hingga menyentuh BHnya. Kembali kuremas buah dadanya. Kumainkan putingnya dari luar BHnya. Dengan inisiatif Naomi membuka kaitan BHnya yg ternyata terletak di depan.

Kini aku dapat merasakan kelembutan buah dada Naomi. Kupilin2 puting susu yg selama ini pernah hadir dalam hayalanku. Naomi mendesah pelan, tanganku terus meremas buah dadanya, mulai dari yg kiri hingga yg kanan. Kutarik tangan kananku, hingga kini tangan kananku terbebas. Kuangkat kaos Naomi dan kubuka. Terlihat buah dada yg begitu kencang kini terpampang di hadapanku.

Kuremas payudaranya, kemudian putingnya kuisap dgn penuh rasa sayang. Naomi terus mendesah. Matanya terpejam, dan tangannya mulai nakal meraih batang kemaluanku. Kubiarkan tangannya bermain dari luar celanaku. Kubuka celana ku hingga batang penisku tegang tanpa ada penghalang. Dengan terampil Naomi mengocok batang penisku. Aku masih sibuk mengisap puting susunya. Seperti seorang bayi yg sedang kehausan. Lalu aku menarik celana Naomi. Dengan sekali tarik terlepas celana sekalian cdnya. Setelah itu kubuka bajuku.

Kini hanya tinggal aku dan Naomi dalam keadaan telanjang bulat. Kemaluan yg begitu indah, bulu2 halus menutupi belahan kemaluan yg begitu tertata rapi. Kuangkat kedua paha Naomi sambil melebarkannya. Kubenamkan wajahku di antara kedua pahanya. Kujulurkan lidahku dan menyentuh klitorisnya. Ahhhhh, desahan yg begitu manja keluar dari mulut Naomi. Kusapu bersih kemaluan Naomi mulai dari klitoris hingga lubang kenikmatannya. Jilatanku membuatnya menggelinjang dan mengangkat pinggulnya. Semakin Naomi menggelinjang, makin dalam kujulurkan lidahku.

Rasa asin dan aroma khas lubang kenikmatannya begitu terasa. Ahhhhhh.. Ahhhh.. Ahhhh, Naomi terus menggoyangkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Akupun terus menjilati kewanitaanya. Tiba2 kedua tangannya meraih rambutku, makin dibenamkannya wajahku, Naomi menjambak rambutku menarik kepalaku agar lidahku masuk ke dalam liang senggamanya makin dalam. Dia melakukan itu sambil teriak dan mendesah.

Mataku dan mata Naomi saling pandang. Tatapan liarnya benar2 membuatku makin bernafsu, Ahhhhh, jilat terus Stefan, jilat yg kasar. Seakan2 jilatanku kurang kasar baginya. Sambil kujilat, kumasukkan jariku ke dalam lubang kenikmatannya. Ini membuat Naomi makin meracau. "Yang keras, ahhhhhh, kurang keras", Wah, rupanya Naomi suka yg kasar. Kemudian kumasukkan 2 jariku ke dalam liang senggamanya. Kukocok dgn sangat cepat, mata kami terus saling pandang, seakan2 kami ingin menunjukkan ekspresi kenikmatan yg kami alami. "Ahhhhhh yg daleeemm bangsaaaat, itu kurang dalem, pake kontol lu Stefan", aku terkejut mendengar kata2 kasar keluar dari mulutnya. Tapi ini justru membuatku makin liar.

Kini 3 jari kumasukkan ke dalam lubang kewanitaannya. Kukocok dgn sangat cepat dan keras, kukasari kemaluan Naomi. "Ahhhhh yg cepet, Ahhhh, Ahhhh" Desahan Naomi makin keras, dia seperti sedang berteriak kemudian mengangkat pinggulnya dan seperti sedang mengejang. Pantatnya terangkat dan seiring dgn kocokanku yg kuat, air kencing keluar dari lubang kemaluannya. "Ahhhhh, aku keluar, ahhhhhh, ahhhhh" Rupanya Naomi sudah mencapai orgasmenya. Cairan squirt keluar dari lubangnya.

Melihatnya sudah orgasme akupun berdiri dan kuarahkan penisku ke mulutnya. Kini tubuhku berada di atas Naomi seolah2 aku menduduki dada Naomi. Diisapnya dgn penuh nafsu. Isapan Naomi benar2 membuat ubun2ku berdenyut karena merasakan nikmatnya. Kulihat ekspresi wajahnya begitu cantik dan benar2 bernafsu. Kulihat tangan kanannya kembali memainkan klitorisnya sendiri.

Setelah berapa lama Naomi mengisap penisku. Akupun mencabut dari mulutnya, kemudian aku kembali menuju bawah tubuh Naomi. Kuarahkan penisku ke lubang kemaluannya. Dengan sekali hentakan, blessss terbenam seluruh batang penisku. Ahhhhhh, desahan Naomi merasakan dinding kemaluannya bergesekan dgn penisku. Kugenjot dgn tempo sedang. Seakan2 tidak ingin melihat buah dadanya menganggur. Kuisap kedua puting susunya secara bergantian. Benar2 kenikmatan yg sudah lama kurindukan, kini kudapatkan kembali dari Naomi.

Kucabut penisku dari lubang kemaluannya, "Jangan dicabut bego, udah enak nih" Protes Naomi. Aku rebahan di samping Naomi dan menyuruhnya untuk menaiki tubuhku. Tiba2 dia naik ke atas tubuhku, namun bukannya menggenjotku tapi dia mengarahkan lubang kemaluannya ke wajahku. Tepat di depan mulutnya dan kemudian dia mendudukinya. Aku hanya bisa menjulurkan lidahku. Kulihat Naomi lebih liar dari adiknya. Dia menggoyangkan pinggulnya merasakan nikmatnya jilatanku. Kedua tangannya tiba2 menarik kepala belakangku. Dia menekan kepalaku agar makin mengasari kemaluannya.

Jilatanku sudah benar2 keras dan kasar, namun sepertinya Naomi masih lebih ingin dikasari lagi. Entah berapa lama dia melakukan itu tiba2 Naomi jongkok di depan wajahku, tangannya mencolok2 lubang kemaluannya hingga akhirnya kembali cairan kenikmatannya keluar bersama dgn air kencing membasahi dagu dan leherku. Naomi pun menjadi lemas.

Kurebahkan tubuh Naomi, Naomi pun tiduran di sampingku dgn posisi tengkurap. Kulihat pantatnya yg mulus begitu indah dan menonjol. Kuarahkan penisku ke sela2 pantatnya. Kuhentakkan sedikit hingga masuk ke dalam lubang kemaluannya dari belakang. Dengan posisi seperti ini, lubang kemaluan Naomi terasa lebih sempit. Kugenjot dgn RPM sedang. Aku terus menikmati lubang kemaluannya. Beberapa lama kugenjot aku merasakan hampir sampai ke puncak kenikmatanku. Makin kupercepat goyanganku, Naomi terus mendesah, kedua tangannya sibuk meremas2 payudaranya sendiri. Hingga entah berapa lama kemudian kurasakan aku sedang berada di puncak kenikmatan.

Kucabut penisku dan kuarahkan ke lubang anus Naomi. Kusemprot anusnya dengan pejuku, ahhhh rasanya begitu nikmat. Kulihat pejuku mengalir, melalui belahan pantatnya hingga ke belahan kemaluan Naomi. Rasa nikmatnya membuat dengkulku menjadi lemas, benar2 tak berdaya. Akupun merebahkan diri di samping tubuh Naomi. Aku memeluk tubuh Naomi. Wajahnya berpaling dari hadapanku.

Rasanya begitu nikmat, benar2 tidak dapat kuungkapkan dengan kata2. Bahkan klo boleh jujur, nikmatnya melebihi saat ku bercinta dengan Dudut. Ahhhhh tidaaaaak, apa yg telah kulakukan? Aku bercinta dengan kakak kekasihku. Ohh tidak. Aku menyesal, benar2 menyesal, tapi nikmatnya, ahhhh bener2 kacau.

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 3

Hidden Story Part I - Angin Malam - Shinta Naomi

Sore ini terasa begitu mencekam di dalam hatiku, bukan karena suasana ataupun keadaan, melainkan karena emosi sesaat yg sempat muncul di dalam benakku, "Cinta itu pengorbanan, bukan mengorbankan", suara itu dengan lantang berbicara keras di HPku sejak tadi. Ya itu suara Viny yg marah terhadapku, "Kamu klo merasa udah berkorban buat Dudut, apakah harus mengorbankan perasaan Dudut?" kata Viny kembali, "Dan kamu gk harus mengorbankan perasaanmu jg, ingat, kamu cowok, yg seharusnya lebih ngerti hal ini". Kata2 Viny membuatku makin terpojok.

2 weeks ago
Kulihat Dudut dari kejauhan, aku tidak dapat menahan hasrat untuk segera memeluknya. Rasa cintaku begitu dalam padanya, senyumku begitu lebar dan tidak dapat kutahan. Kulihat orang2 di sekitarku kebingungan melihatku tersenyum sendiri. Iya, aku memang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku, karna hari ini, Dudut akan menerima cintaku di depan Naomi. Oh, inikah maksudnya menyuruhku menunggu 3 hari? Ahhh, Dudut you're the best.

Namun, senyumanku berubah seketika, saat kulihat Dudut menangis sambil memeluk Naomi, ohh tidak, ini bukanlah tangis karena akan berpisah satu sama lain. Tangisan ini begitu beda, ada apa dengannya? Tiba2 Dudut menoleh ke arahku, lalu berpaling dan kemudian masuk ke dalam. Ada apa ini? Aku hanya diam sesaat, apakah ini bagian dari skenario Dudut dan Naomi?

Kulihat Naomi berlalu dan pergi, dia tidak mengetahui keberadaanku, aku hanya bisa terdiam di sini sejak tadi, menunggu Dudut keluar kemudian menerima cintaku dan berpelukan denganku. Ohh tidak, sudah 20 menit aku berdiri di tempat ini, mana Dudut? Tiba2 HPku bergetar, rupanya ini adalah chat dari Dudut, kubuka chat darinya. "Kak, apa yg telah kita lalui, sungguh akan terukir dalam hatiku. Semua yg sudah kita lalui adalah hal yg terindah dalam hidupku. Aku tau, kamu mencintaiku sepenuh hatimu. Tapi, mohon maaf yg sebesar2nya. Mulai detik ini, jangan hubungi aku lagi. Kamu gak ada salah, aku yg salah. Kamu gak ada cela, aku yg tercela, ini gak ada hubungannya dgn apa yg kita lakukan kemarin. Tapi, klo kamu benar2 mencintaiku, maka tinggalkan aku. TERIMA KASIH untuk SEGALANYA."

Isi chat ini membuat sekujur tubuhku menjadi lemas. Aku terdiam, terus menatap layar HPku. Berusaha memaknai setiap kata yg ada. Orang2 lalu lalang di sekitarku, mereka menjadi lambat dan seolah2 semua melihat ke arahku. Seakan2 mereka ikut prihatin dgn apa yg kurasakan saat ini. Dunia seakan2 berhenti. Kata2 ini membuat sekujur tubuhku menjadi kaku, apa yg terjadi?

Aku menarik nafas, mencoba berpikir jernih, oke aku tidak akan mendapatkan jawabannya kalau aku tetap berada di sini. Tenangkan pikiran terlebih dahulu. Pasti ada jawaban logis dari ini semua. Aku tidak ingin emosi dan nafsu mengalahkanku.

Hari ini berlalu dengan penuh misteri, yang kusadari hari ini adalah, aku kehilangan Dudut yg telah mengambil setengah dari hatiku. Yang kutau hari ini adalah, segala akses untuk kami berhubungan telah di blok olehnya, dan satu2nya harapanku hanyalah Naomi. Ya, hanya dia yg tau kata2 terakhir darinya. Aku harus memastikan, apa yg diucapkannya sehingga dia meninggalkanku dgn tiba2. Jikalau aku harus kehilangan Dudut, aku akan pasrah, namun aku harus mengetahui dimana salahku. Hari yg benar2 kutunggu telah terlewatkan begitu saja, menjadi hari yg paling sedih bagiku.

Okee, hari ini kuputuskan untuk menuju rumah Naomi, aku ingin tanyakan semuanya. Aku tidak mau semuanya berlarut2. Ingin rasanya ku menangis dan berteriak, agar beban di dada ini sedikit hilang terhapus oleh air mata. Namun rasanya tidak sanggup, bukan karena aku menganggap diriku tidak cengeng, tapi rasa sedih dicampur kebingungan membuat konflik di dalam bathinku.

Kupacu motorku dgn kecepatan tinggi di malam ini, dalam benakku hanya ada tanya, tanya yg terus terngiang hingga akhirnya menimbulkan jawaban2 yg tidak masuk akal versi diriku sendiri. Ini pasti karena aku gak nembak dari dulu, ini pasti karna aku bercinta dengannya sebelum ada komitmen dan status, ini pasti karna aku tidak dapat menahan nafsuku, ini pasti karena ..... Ohhh shiiit betapa terangnya lampu itu menyorot ke mataku, membuatku refleks terpejam dan, aaaaaaaa tidaaaaaaaak. Braaaaaaakkkk, hal terakhir yg kulihat adalah sebuah mobil Innova menghantam motorku dgn keras dan tiba2 semua menjadi hitam dan gelap, dan ....

"Stefan Hadi Saputra", "Iya, saya" mohon keluarganya ke bagian administrasi ya, kudengar suara hiruk pikuk dgn samar2, kubuka mataku, namun semua tampak samar. Yg kulihat Naomi sedang berlari, menuju sumber suara yg menyebut namaku tadi. Aku dimana? Aahhh, kepalaku, betapa sakitnya, aaaahhhh. Tiba2 kesadaranku menurun kembali dan semua menjadi gelap.

Saat kubuka mataku, kulihat di sisi kananku ada perban yang tergulung rapi dan beberapa suntikan. Ohhhh tidaak, aku pasti mengalami kecelakaan tadi. Dimana aku sekarang? Ahhhh kenapa kakiku tidak bisa kugerakkan, tanganku begitu ngilu. Ahhhh, betapa sakitnya tubuhku kali ini. Tiba2 seseorang membuka pintu kamar ini. "Naomi?", "Eh Stefan, kamu sudah sadar? Makan dulu ya" jawab Naomi. Kemudian dia membuka plastik yg menutupi mangkok yg berisi bubur. Naomi menyuapiku. Baru 3 kali suap, tiba2 aku muntah, Ahhhh rasanya begitu sakit. Naomi berlari mengambil handuk kecil, kemudian membersihkan bekas2 makanan yg telah kumuntahkan.

Kemudian Naomi membuka kancing bajuku, satu persatu, kemudian dilepaskannya. Naomi mengambil handuk basah dan membersihkan tubuhku. Kulihat dia begitu telaten, kemudian kuraih tangannya. Dia melihat ke arahku, "Naomi, aku minta tolong ya", "Minta tolong apa?", "Tolong jangan kasi tau org tuaku ataupun Dudut klo aku kecelakaan ya". Aku memiliki asuransi sehingga biaya Rumah Sakit dapat kutanggung sendiri.

"Ntar klo ada apa2 tlpon aku ya, hari ini aku ada theater" Kata Naomi padaku, aku hanya mengangguk, "Nanti aku suruh perawat ngecek setiap 1 jam ya". Kemudian Naomi memakaian baju kembali. Kali ini entah dia dapat bajuku darimana? Ahh dia begitu perhatian padaku. "Aku pergi dulu ya, jaga diri baik2" Kata Naomi sebelum dia keluar dari kamarku. Kulihat meja di sampingku, ada buah2an yg tersusun rapi dan HP, wah HPku, ohhh yesss, HPku gak ilang, namun saat kulihat trnyata sedikit retak, ahh gpp deh yg penting gk rusak.

Kulalui hari ini dengan berbaring di kasur Rumah Sakit. Kunyalakan TV, dan mengganti2 saluran channel. Aku tidak menemukan acara TV yg menarik bagiku, tapi kubiarkan TV itu menyala, untuk menemani kesendirianku. Entah apa yg terjadi pada diriku, namun yg pasti aku belum bisa menggerakkan kaki kananku. Aku gak mau berpikir terlalu keras, aku ingin fokus pada kesehatanku terlebih dahulu. Lalu kemudian seorang perawat dan seorang dokter masuk ke ruanganku. Menanyakan keluhanku. Kujawab apa yg kurasakan sambil bertanya2.

Barulah aku tau trnyata tulang pada kakiku bergeser dan harus dirawat dan yg paling mengejutkan, aku sempat koma selama 2 hari. Dan hanya Naomi yg mengurusku. Lalu, si Dokter keluar dan hanya tersisa perawat saja yg mengecek kamarku. "Nama ceweknya Dudut ya? Lucu yahh namanya, hehe", aku terkejut mendengar kata perawat itu. "Tau nama Dudut dari mana?" Akupun bertanya, dan jawabannya membuatku lebih terkejut lagi.

Perawat itu bercerita, saat tiba di UGD, seorang cewek begitu repot, mengurusku sendirian, berlari kesana kemari, mengecek keadaanku sambil menangis hingga dia tertidur di sampingku. Tapi selama aku tidak sadar, ternyata aku terus menggigau menyebut nama Dudut. Akupun tersenyum dan menjadi malu, hehehe.. Pasti Naomi tau klo aku jatuh cinta sama adiknya. Tapi kemudian akupun teringat, kalau Dudut menolakku, aaaaaaahhh pikiranku kembali berkecamuk, kesedihan kembali menyerangku. Si Perawat keluar dan akupun kembali sendiri di kamar ini. Sungguh membosankan, tiba2 rasa ngantuk menyerangku. Aku membetulkan posisiku sebelum akhirnya memejamkan mata.

Aku sedang berjalan di sebuah dermaga di waktu senja. Kusendiri melihat matahari yg mulai jenuh menyinari bumi meninggalkan suasana haru dan sunyi. Tiba2 ada tangan yg menggenggamku, meraih tangan kiriku sambil berlalu seolah2 menarikku agar berjalan mengikuti temponya. Seorang gadis yg menggandengku menoleh ke arahku. "Dudut?", kemudian dia tersenyum padaku. Inilah dermaga cinta, saksi bisu perjalanan kasih. Senja makin sempurna, mengeluarkan warna alam yg begitu sempurna, memberi ketenangan dalam hatiku. Gadis yg kucinta menggenggam erat tanganku sebelum akhirnya dia pergi dan menghilang. Aku bermimpi, mimpi ini membuatku bahagia walaupun hanya sesaat.

Saat ku tersadar, kulihat Naomi sedang tertidur di sofa dekat denganku. Wanita ini begitu cantik. Dia adalah wanita yang tangguh yang selalu menyembunyikan kerasnya hidup yg dihadapinya dengan senyuman dan kekonyolan2 yg diperbuatnya.

Beberapa hari berlalu, dan tibalah waktuku untuk pulang, tepat 7 hari aku dirawat. Kakiku sudah bisa digerakkan walaupun sedikit. Selama aku berada di rumah sakit, hanya Naomilah yg mengurusku, dia begitu tulus membasuh tubuhku dgn handuk basah, menyuapiku saat tiba waktu sarapan dan makan siang, Mengganti perban dan memberikan obat pada lukaku. Hingga di hari terakhir aku di Rumah Sakit, Naomi lah yg mengurus segalanya. "Stefan, kamu nginep aja di Apartment Viny ya, aku udah minta ijin kok", kata Naomi, "Jangan Naomi, aku di kost aja, gpp kok", jawabku, "Udah, jgn bandel, klo kamu di kost, siapa yg urus kamu?" jawabnya.

Kami sempat berdebat kecil, hingga akhirnya aku mengalah. Entah kenapa Naomi begitu perhatian padaku, apakah karena aku sahabatnya? Tapi perhatian yg diberikannya lebih dari sekedar sahabat. Sempat hatiku tersentuh dan membandingkannya dgn Dudut. Ahhh, tidak tidak, jangan dibanding2kan. Kami pun naik taksi menuju ke Apartment Viny di Jakarta Selatan. Setiba di sana, Naomi memegangi lenganku sambil menuntunku jalan menaiki lift.

Wanita tangguh ini benar2 menjadi pahlawan dalam hidupku. Aku tidak pernah bertanya, darimana dia tau klo aku kecelakaan, tapi saat ini yg kurasakan adalah rasa salut dan bangga memiliki sahabat yg benar2 membuatku jatuh cinta.. Ehhh tunggu dulu, jatuh cinta? ahhh tidak tidak, nooo Naomi adalah sahabatku, jgn sampe ini terjadi. Jangan sampe aku terjebak di antara cinta adik kakak.

Beberapa hari kulalui, kakiku semakin membaik, kepalaku juga sudah tidak pernah merasakan rasa sakit lagi. Hingga aku sudah merasa sehat. Aku mengambil HP dan ingin memberitau Naomi klo aku sudah bisa pulang ke kostku. Saat kubuka HPku ada 3 panggilan tak terjawab. Saat kubuka, betapa terkejutnya aku, ini Dudut, dia menelponku berkali2. Apakah dia berubah pikiran? Apakah dia kangen? Saat sedang berspekulasi Dudut kembali menelponku.

Aku: Halo
Dudut: Halo kak
Aku: Kamu kenapa mnghilang? Kenapa kamu permainin perasaanku?
Dudut: Maaf kak, maafin aku ya, aku sayang ama kk
Aku: Klo sayang knp harus sprti itu? Perasaanku hancur
Dudut: Iya kak, maafin aku, kk gmna keadaannya? Sudah sehat?
Aku: Maksudnya?
Dudut: Aku baru tau kk kecelakaan
Aku: Ohh berarti aku harus celaka dulu baru kamu telpon?
Dudut: Nggak kak, maafin, aku udah buat salah sama kk
Aku: Tolong jelasin aku, kenapa sikapmu tiba2 berubah, dan knp menghilang?

Dudut menjelaskan semuanya, termasuk ungkapan perasaan Naomi kepadanya. Ternyata selama ini Naomi jatuh cinta padaku, sehingga membuat Dudut harus mengorbankan perasaannya demi kakaknya, dan kali ini Naomi menghubungi adiknya dan mengatakan kalau trnyata dia sudah memiliki kekasih dan itu bukan diriku, jadi Dudut mau menghubungiku kembali.

Aku: Kenapa kalian gak jujur sama aku haah?
Dudut: Jangan marah kak, aku gk mau sampe Kak Naomi sedih gara2 aku
Aku: Tapi tau gak, akulah korbannya di sini
Dudut: Iya kak, kita perbaiki semuanya ya, tunggu aku pulang ya sayang
Aku: Udah lupain semuanya, aku kecewa sama kalian berdua, bye

Aku memasukkan semua bajuku ke tas ransel, lalu aku memesan taksi online menuju sebuah bengkel dmana motorku diperbaiki. Setelah itu kupacu motorku, sebelum pulang aku mampir di kampus untuk menemui Naomi.

Aku: Ternyata selama ini kamu bohong sama aku
Naomi: Ada apa?
Aku: Selama ini kalian berdua sudah membohongiku, mengorbankan perasaanku
Naomi: Tolong jelasin dulu, ada apa?
Aku: Dudut tiba2 meninggalkanku setelah kamu ungkapin perasaan cintamu kepadaku ke Dudut
Naomi: (Tertunduk)
Aku: Lalu skrg kamu berbohong sudah punya kekasih
Naomi: Kamu lebih cocok ama Dudut
Aku: Ini bukan masalah cocok tidaknya, tapi kalian berdua saling berkorban satu sama lain tanpa pernah berpikir bahwa korban sebenarnya adalah aku
Naomi: Maafin aku, tapi tolong, baliklah ke Dudut
Aku: Sudahlah, terima kasih buat semuanya, aku gak akan memilih diantara kalian berdua, aku kecewa

Akupun berpaling dan meninggalkannya, kulihat Naomi meneteskan air matanya. Perasaanku sebenarnya hancur melihatnya menangis, ingin kupeluk Naomi saat ini, namun emosiku mengalahkan akal sehatku. Kupacu motorku dan kuputuskan aku tidak akan bertemu dengan mereka berdua lagi. Selamat tingga wanita wanita tangguh yg sudah mengisi hidupku dan hatiku selama ini.

BERSAMBUNG
LANJUT KE PART 2

Love Story Part 7 (Final Part) - Cinta Sejati - Sinka Juliani

Esok adalah hari kepergianku. Kejadian kemarin membuatku berpikir sepanjang hari, dan membuatku murung. Apakah Hal itu yg diharapkan oleh semua cowok? Ada yg mengatakan itu adalah pembuktian cinta, ada juga yg mengatakan semua cowok hanya menginginkan itu. Tapi, kalo emang semua cowok hanya menginginkan ML dgn ceweknya, mengapa kak Stefan gak merenggut keperawananku satu hari sebelumnya? Dia bisa menahan dirinya. Kemarin akulah yg menyerahkan tubuhku, akulah yg menanyakannya terlebih dahulu. Dan aku yakin jika aku menolaknya. Kak Stefan tidak akan memaksaku. Aku tau, dia mencintaiku dengan tulus.

Kak Stefan: Slmt pagi sayang
Aku: Ihhh kok panggil2 sayang sih, kita belum jadian
Kak Stefan: Berarti belum diterima nih?
Aku: Perjanjiannya kan besok aku jawab, sabar
Kak Stefan: Aku udah gak sabar, pingin jadi kekasihmu

Chat dari Kak Stefan memecah pagi yg hening ini. Hari ini Kak Naomi minta ijin untuk tidak theater dan kuliah, karena dia ingin bersamaku full selama satu hari. Kak Naomi ingin menghabiskan waktunya bersamaku. Memang selama ini kami selalu kompak, bahkan saat ikut audisi JKT48 pun kami selalu berdua dan kamipun diterima. Aku dan Kak Naomi begitu dekat dan saling melindungi.

Kami bercerita, flashback ke belakang. Tentang bagaimana saat aku memenangkan turnamen JankenPon dan menjadi center dalam single Love Trip, lalu saat Kak Naomi menjadi salah satu pemeran dalam film layar lebar Viva JKT48. Cerita2 masa lalu yg begitu indah dan akan terus menjadi kenangan hingga kami berdua punya anak nanti. Aku dan Kak Naomi berjanji di depan Mamah, tidak akan ada yg bisa memecah kita, kami akan tetap saling mendukung. Sempat terpikir Kak Naomi untuk Grad dalam waktu dekat, tapi aku terus membujuknya, karena salah satu alasanku tetap semangat theateran adalah karena ada kakakku yg selalu memberi semangat.

Baru kali ini aku merasakan quality time bersama keluarga semenjak kepergian Ayah. Kepergiannya meninggalkan duka yg mendalam, namun ini semua dapat kami lewati, kami terus kompak dalam menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari masalah kecil hingga masalah yg begitu besar. Tidak ada masalah sedikitpun yg dapat memecah kekompakan kita. Aku bersyukur memiliki Mamah dan Kak Naomi yg begitu sayang kepadaku.

Berjam2 kami bercerita, saling curhat, hingga akhirnya kata Mamah, "Dut, yuk beres2 koper kamu". Kami bertiga pun masuk ke kamarku, dan mulai membereskan barang2 yg akan kubawa ke Jepang nanti. Mulai dari baju, celana, daleman, aksesoris, make up, hingga beberapa buku aku bawa.

Setelah selesai, kami pun beristirahat sebentar sambil nonton TV kemudian kami masak2 di dapur. Kak Naomi bagian memotong2, aku bagian mencuci, mamah bagian memasak. Kami lewati dgn begitu bahagia hingga masakan pun jadi. Setelah itu kami pun makan bareng di meja makan. Inilah sebuah keluarga kecil yg kusayangi. "Naomi, kamu udah punya calon?" Tiba2 Mamahku bertanya. "Mmmm doain ya Mah, semoga aja" jawab Kak Naomi, "Ciiieeee, udah jadian belum nih?" Kataku. Hehehe.. Rupanya Kak Naomi lagi nunggu ditembak cowok nih :D. Wah aku udah pernah merasakannya, rasanya bikin sakit ati, gak karuan. Hehehehe, kujelaskan perasaanku saat menunggu ketidak pastian itu pada Kak Naomi, dia hanya tertawa mendengar ceritaku.

Aku: Eh tapi kemarin lusa dia nembak aku lohhh
Kak Naomi: Trus kamu terima?
Aku: Nggak
Kak Naomi: Kamu tolak?
Aku: Nggak juga, aku jawabnya besok di bandara
Kak Naomi: Halahhh, sok sweet kamu

Mamah pun tertawa melihat tingkah lakuku. Gak sabar nih nunggu besok, menerima Kak Stefan dan memperkenalkannya pada calon kakak iparnya, hehehe, pasti dia terkejut setengah mati. Hari ini kulalui dengan begitu sempurna dan sukacita. Aku bersama orang2 yg aku sayang, saling curhat dan melepas rindu, suasana yg hampir tidak pernah kami dapati lagi. Hingga akhirnya kami pun tidur bertiga.

Bunyi alarm memecah keheningan pagi ini, suara kicau burung bersahutan seakan2 ikut membangunkanku. Kulihat Kak Naomi dan Mamahku sedang repot menyiapkan sarapan untukku. Saat kubangun, aku merasa seperti tuan putri, segala kebutuhanku telah disiapkan oleh Kak Naomi dan Mamah. Aku pun sarapan, tidak lupa aku Chat Kak Stefan. Ternyata dia sudah chat duluan, "Semoga hari ini adalah hari bersejarah bagiku, hari dimana aku akan mendapatkan cintamu", wah sejak kapan Kak Stefan sok romantis gini? Setelah sarapan akupun mandi dan bersiap2. Kutelpon Viny dan dia sudah siap berangkat ke Bandara. Aku dan Kak Naomi pun telah siap. Mamahku gak ikutan karena jaga rumah. Akupun berpamitan, tidak lupa aku memohon doa dari Mamah, menciumnya dan kemudian berpelukan. Aku sempat terharu dan hampir air mataku menetes.

Aku dan Kak Naomi bergegas menuju bandara menggunakan Taksi Online. Mobil dipacu dengan lumayan ngebut. Sepanjang perjalanan aku ingin memastikan Kak Stefan akan tiba tepat waktu. "Kak, ntar klo udah nyampe, jgn langsung temuin aku ya, ntar aku kasi tau kapan kakak boleh deket, heheee" Chat ku kepada Kak Stefan. Aku bener2 ingin memberi kejutan pada Kak Naomi.

Beberapa jam dilalui, perjalanan makin dekat dengan bandara. "Kak, siapa sih cowok yg kakak tunggu?" aku bertanya pada Kak Naomi, "Ntar aja, balik dari Jepang kakak kasi tau" jawab Kak Naomi. "Kasi tau skrg deh kak, penasaran tau, ntar aku gk tenang lhoo perjalanan ke Jepang" paksaku lagi. "Hmmmm, Dut, menurut kamu, Stefan gimana?" Kak Naomi balik bertanya padaku. Oh shit, rupanya kejutanku ketauan nih, huuhhh, siapa sih yg bocorin?

Aku memberitau Kak Naomi tntang Kak Stefan, aku memujinya, tingkah lakunya, perhatiannya, semua kupuji. Aku menjelaskan kelebihan kak Stefan sambil tersenyum lebar. Karena ini keluar dari lubuk hatiku yg paling dalam. "Dut, Kakak jatuh cinta ama Stefan", tiba2 perkataan Kak Naomi membuatku tertegun, membuatku kaget setengah mati. Membuatku tercengang. "Kira2 Kakak cocok gk sama dia?" Kak Naomi kembali bertanya. Entah bagaimana rasanya jantungku saat ini, hatiku tiba2 hancur, aku ingin berteriak namun dia adalah Kakakku, kakak yg kusayang. "Dut, kok diem sih?" tanyanya kembali, "Eh, Mmmmm, i i ii iya kak" jawabku dgn terbata2.

Tiba2 air mataku keluar, aku tidak ingin terlihat sedih di depan Kak Naomi, "Kamu kenapa dut?" tanya kak Naomi, namun tangisanku makin dalam, aku tersedu2, "Sayaaaang kamu kenapaaa?" Tanya kak Naomi begitu khawatir, "Gak ada kak, aku terharu, klo kakak Nikah, kita akan pisah" jawabku berbohong. Tiba2 Kak Naomi memelukku dengan erat. Dia pun menangis, "Aku gak akan tinggalin kamu Dut, aku tetep kunjungin kamu kok, kita harus tetep ketemu" jawab Kak Naomi.

Aku berusaha untuk menyeka air mata ini dan berhenti menangis, namun sedihnya begitu luar biasa, tidak dapat kutahan. Aku telah menyerahkan segalanya, aku telah mengorbankan satu2nya yg paling berharga dalam tubuhku yaitu keperawananku padanya. Tapi, ternyata, kakakku mencintainya. Aku gak mungkin menyakiti Kakakku sendiri. Gak Mungkiiiiiin. Aku ingin berteriak sekeras2nya. Apa daya teriakanku hanya di hati saja.

Kami pun tiba di bandara. Kulihat Ayana, Viny, Kak Yona, Lidya dan Kak Haruka dan beberapa orang dari manajemen sudah tiba duluan. Kami pun bersalaman, tapi aku menyuruh mereka masuk duluan. Mereka pun masuk ke dalam ruang tunggu. Aku masih menunggu di luar, dan akupun melihat mata Kak Naomi. Mata yg benar2 menatapku dgn penuh kasih sayang. Dialah kakakku, yg menyayangiku dgn tulus, dan apapun yg telah kukorbankan, tidak akan sebanding dgn rasa sayangku terhadap kakakku. Maka pada hari ini, aku mengikhlaskan apapun yg telah kukorbankan pada Kak Stefan.

Saat ku melihat di kejauhan, kulihat Kak Stefan sedang melihat ke arahku sambil tersenyum. Senyumnya penuh dengan cuka cita, penuh dengan harapan. Tatapan tajamnya mengisyaratkan bahwa dialah calon suamiku yg akan menjagaku kelak. Namun aku tidak akan menyakiti kakakku. Raut wajah kak Stefan berubah menjadi bingung, saat ku balik badan dan meninggalkan Kak Naomi menuju ruang tunggu. Namun untuk kedua kalinya, aku kembali berbalik, tangisanku kembali pecah dan aku kembali memeluk Kak Naomi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Sempat kulihat wajah Kak Stefan begitu sedih, rupanya dia tau ini adalah pertanda bahwa aku menolaknya. Kemudian kubuka HPku, dan mengetikkan kata2 perpisahan untuknya.

Kak, apa yg telah kita lalui, sungguh akan terukir dalam hatiku. Semua yg sudah kita lalui adalah hal yg terindah dalam hidupku. Aku tau, kamu mencintaiku sepenuh hatimu. Tapi, mohon maaf yg sebesar2nya. Mulai detik ini, jangan hubungi aku lagi. Kamu gak ada salah, aku yg salah. Kamu gak ada cela, aku yg tercela, ini gak ada
hubungannya dgn apa yg kita lakukan kemarin. Tapi, klo kamu benar2 mencintaiku, maka tinggalkan aku. TERIMA KASIH untuk SEGALANYA.

Aku pun bergabung dengan teman2ku, kulihat Viny begitu bahagia. Kemudian dia melihatku, dan bertanya "Bagaimana dengan Kak Stefan? Udah Jadian?", aku tidak menjawabnya, aku hanya menatap matanya begitu dalam, air mataku tidak dapat kutahan, kemudian Viny memelukku dengan erat, seolah2 dia tau apa yg terjadi. "Sabar ya sayang, tidak selamanya apa yg kita harapkan akan terwujud", Kata Viny berusaha menghiburku. Namun, kali ini, aku berharap, Kak Stefan akan menerima cinta Kak Naomi dan bisa membahagiakannya.

Hari ini, aku harus meninggalkan Jakarta dengan hati yg begitu hancur, namun tetap bangga, karena aku telah menjadi wanita yg seutuhnya, wanita yg mengerti arti cinta yg sesungguhnya. Cinta adalah pengorbanan, tanpa harus mengharapkan balasan. Cintaku dan Kak Stefan bukanlah takdir, namun jika ini adalah takdir, maka sudah pasti kita berdua akan dipertemukan kembali dalam suasana yg lebih indah.

Saat di pesawat, Kubuka HPku, lalu kuhapus segala sesuatu yg berhubungan dengan Kak Stefan, kuhapus chat, foto2 hingga kontak2nya, ku blokir semua akunnya, dan aku ingin menjadi orang yg baru. Kulihat Viny tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya, dan aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku. Ini adalah dinamika kehidupan. Selamat tinggal Jakarta.

SEKIAN